Tuesday, May 5, 2009

Keindahan bukan hanya milik pelangi

Pada panas cerah di langit siang, ada kekuatan tekad di sana. Akan makna perjuangan yang tak pernah berhenti di sini. Jasad berpeluh darah dan mata yang terjaga pada perang di jalan-Nya menjadi lebih indah dibanding malam pengantin. Ada keyakinan pada keikhlasan niat. Sebab ada syurga di ujung sana.

Pada simfoni kesunyian malam, ada nada kerinduan angin di sana. Akan ukhuwah yang tak retak oleh perselisihan. Ikatan yang lebih murni dibanding pertautan darah. Hati yang berpadu dan berhimpun, semata untuk mahabbah (cinta) pada Allah swt. Bersatu. Menopang yang lemah dan rapuh, berlomba dalam mengejar amalan syurga.

Pada kata yang terangkai menjadi do’a, ada refleksi kecintaan di sana. Akan kerinduan kepalan takbir membumbung angkasa. Menyeruak semangat muda asy-syabaab. Deklarasi tentara Allah yang tak pernah ragu menjadi mimpi buruk untuk setiap tiran congkak di negeri ini. Segala yang ada pada diri, adalah wakaf di jalan panjang dakwah ini.

*siapkan nafas panjang, 2014 menanti!!!

Sunday, March 1, 2009

tentang "bidadari" [part 1]


Seperti malam itu, waktu adzan isya mulai berkumandang dari menara masjid. Ketika kesal masih menggumpal di satu sisi hati, penat setelah beraktivitas seharian. Dia duduk di sebelah kiriku. Menyandarkan kepalanya di bahuku. Berkata setengah terisak, “bantu saya masuk surga ya...”. Dan segalanya menjadi semakin jelas. Aku memang mencintainya! Cukuplah ia menjadi bidadariku di sini dan di surga kelak. Kabulkan ya Rabb...

Tuesday, January 13, 2009

bila hati rindu menikah [part 11] : Menggelar Sajadah Cinta

Muhammad Quthb mengatakan bahwa kenyataan yang membuat kehidupan manusia akan tersusun atas keresahan, keraguan, atau kegelisahan. Kenyataan terus menerus yang katanya harus diatasi dengan “sarang” yang kokoh bernama “keluarga” bersama “teman” bernama “pasangan hidup”.

Maha Benar Allah yang berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri, supaya kamu menemukan rasa tenteram, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”
(QS Ar Ruum 21)



Sahabat-sahabatku, kami mohon kehadirannya pada hari dipersatukannya kami dalam ikatan cinta-Nya. Dengan do'a yang insya Allah makin mengekalkan cinta kami di Jalan-Nya.

Kami : ilo & ummi

Sunday, December 28, 2008

bila hati rindu menikah [part 10] : catatan pertama untuk calon istriku...

Ajari diriku tentang sunnah Rasul SAW, yang menempatkan indah ukhuwah sebagai ikatan kuat yang menyatukan! Segarkan, ceritakan lagi pada diriku tentang perjalanan syuhada, manusia langit yang berderap di bumi! Tentang semua kegembiraan, kebahagiaan, kemuliaan yang membersamainya ketika hidup dalam medan juang kesyahidan!


Sebab, merekalah pembela agama, penegak benteng-benteng izzah kehormatan risalah ini. Jiwa raga digadaikan, dalam akad jual beli yang paling mahal. Akad dengan Rabb Semesta Alam, dengan syurga sebagai harganya. Dalam barisan panjang kafilah syuhada, untuk menjemput cinta Ilahi.


Wahai diri. Engkaulah generasi Shalahuddin Al-Ayyubi! Sadarkah dirimu dengan hakikat Ribathul Ukhuwah yang selalu terlantun dalam doa rabithah pagi soremu? Dan engkau, jadilah Mujahidah Al-Khansa di abad modern ini. Pendidik generasi penerus cita dan risalah para Nabi.


Jasad-jasad wangi mereka telah tertelan bumi, untuk nilai kebenaran yang terbela. Namun mereka tidaklah mati. Tidak sama sekali! Mereka hidup penuh senyum kedamaian, di sisi Tuhan dalam taman-taman syurga.


Ingatkah engkau dengan azzam/tekad yang telah berbilang umur. Untuk mewujudkan cita harapan akan sebuah impian mulia. Sadarkah dirimu memandu jiwa menuju padang luas tak bertepi, syahid dambaan!


Ajari aku, beritakan padaku,kuatkan azzam ini kembali... ... ...goreskan cita sebagai pembela agama. Tanpa keraguan, tanpa keraguan, TANPA KERAGUAN!!! Bahwa kematian hakikatnya adalah sebuah PEMBEBASAN!!!


*dalam tangis tanpa suara, kegeraman dan sesak, membaca berita penyerangan Israel La'natuLlah ke jalur Gaza*

Sunday, December 21, 2008

Love U, Mom...



Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir - bibir manusia.
Dan “Ibuku” merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.

Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegas kita diluka lara, impian kita dalam rengsa, rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi. Siapa pun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa
merestui dan memberkatinya.

Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu. Matahari sebagai ibu bumi yang menyusuinya melalui panasnya.
Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.

Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan. Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya. Pepohonan
dan bebungaan adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian.

Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud.
Penuh cinta dan kedamaian.

--KAHLIL GIBRAN--

Monday, December 1, 2008

Representasi 'kesepian' (bagian 2)

Siang ini, tiba-tiba saja aku ingin menangis. Bukan, bukan karena hujan di luar sana yang membuatku harus berteduh hingga akan telat sampai di tempat tujuan. Juga bukan karena lapar sepagian belum ada yang masuk ke dalam organ pencernaanku. Bukan. Tapi ada buncahan dari dalam yang memaksa mata ini kembali berembun. Tanpa bisa kucegah.


Pertama, entah mengapa pasca menulis 'bila hati rindu menikah [part 9] : Berani menjemput Bidadari' di blogku, bayangan 'kesucian' NabiyuLlah Yusuf a.s yang mampu membentengi diri dari godaan Imraatul Aziis, dan Abu Bakar Al-Misky, pemakai 'baju besi' dari kotoran manusia demi menghindari zina dengan wanita kaya dan cantik, semakin kuat dalam benakku.


Malu. Iya. Sebab diri ini tidak akan bisa menandingi memuliaan mereka. Masih saja harus berjibaku dengan tarikan nafsu dunia yang melenakan. Menang dan kalah silih berganti. Seperti waktu menemani rekan-rekan wartawan meliput diksusi antara buruh dan sekjen salah satu parpol di Qu*** Cafe sampai pukul 3 dinihari kala itu. Sampai sentakan kalimat seorang akhwat yang juga bagian dari tim ini menyadarkanku yang sempat menolehkan kepala ke arah 'kotak ajaib' yang menampilkan para model di atas catwalk.


Kedua, saat mereply email seorang rekan di milis Musholla Adz-Dzarrah Elektro FT-UH. Ingatan pada Palestina menyeruak. Selalu saja menyajikan cinta, empati, sedih, harapan, semangat, geram bahkan marah. Ah, sudah berapa lama aku tak menulis tentang negeri ini. Negeri suci setelah Makkah dan Madinah. bagaimana kabar saudara-saudaraku yang ada di sana... yang tetap tersenyum dengan kilat mata penuh kehidupan dan genggaman tekad pada batu-batu jalanan? Sungguh, aku mencintai kalian. Meski yang kulakukan baru sebatas menyebut dalam do'a dan sedikit coretan dalam catatan di blogku.


Seperti Faiz Abdurrahman, yang pernah bertanya pada bundanya, Helvy Tiana Rosa. 'Apakah cinta memang selalu menyediakan air mata?

Sunday, November 30, 2008

bila hati rindu menikah [part 9] : Berani Menjemput Bidadari?



Sebab keyakinan akan meneguhkan sisi jiwa yang cemas. Memekarkan harum bunga yang terlahir dari kesabaran akan penantian. Bilangan waktu dan bentang jarak, tidak ada yang akan berakhir sia-sia. Semua adalah karunia oleh-Nya. Untuk menguji komitmen perjuangan yang lahir dari rahim kesejatian iman. Saat perjalanan bermakna pencarian hakikat diri.


Jejak sejarah telah mengering. Tangisan pemuda Abdurrahman bin Abu Bakar dalam do'a, untuk Atikah, wanita suci yang pandai menjaga diri dan kehormatannya. Akan kesabaran zulaikha yang tak putus dalam munajah agar dipertemukan dengan tambatan hati, Yusuf a.s. Seperti Adam a.s yang turun ke bumi dari kenikmatan surgawi, terpisah jarak dengan bagian tulang rusuknya, Ibunda Hawa. Sama dalam penantian. Sujud panjang memohon ampunan dan harapan agar kembali menyatu.


Titik kecil yang mulai menunjukkan bias terangnya. Pada titian jalan lurus yang semakin menampakkan godaan di kiri kanannya. Terasa. Menjaga kesucian pandangan menjadi lebih rumit dibanding waktu lampau. Pada kehalusan suara dan gerakan satu anugerah alam yang paling sempurna. Benteng terakhir lautan do'a di hening malam, agar keteguhan semakin karang. Masih dengan tekad yang sama, bahwa Sang Maha Pencinta tidak akan membiarkan air mata hamba-Nya menetes tanpa balasan kasih sayang dalam dekapan-Nya.


Mengisi hari, dengan asa melangit. Komitmen suci untuk sebuah ikatan menyempurnakan separuh dien agama. Agar terang cahaya itu makin kemilau. Menyisakan sesal dan putus asa setan musuh nyata manusia pada semakin kuatnya satu sunnah kenabian dalam mitsaqan ghaliza. Dan bila waktunya tiba, izinkan aku menjemput bidadari itu. Untuk bersama menuju-Mu dalam hari-hari perjuangan menegakkan Risalah suci.


[Tanah Anging Mammiri – Kota Pelajar - ... ... ...] Doakan ^_^

*Aku masih ingin terus terbang menembus tingginya putih awan, seperti elang. Namun dengan angin di kiri kanan kepakanku

Thursday, November 13, 2008

Representasi 'kesepian' (bagian 1)

Bila da'inya bermental ayam negeri yang tidak tahan angin, mudah terkena penyakit sampar, dan mengandalkan jatah makanan olahan, maka kiamat dakwah sudah terdengar serunainya (Rahmat AbduLlah, Untukmu Kader Dakwah)

Ah, mengapa juga kebanyakan kita lebih memilih menjadi segolongan manusia yang baru masuk islam kemudian digembirakan Rasul SAW dengan pembagian harta rampasan perang. Sementara sahabat-sahabat yang teruji keimanan dan keislamannya, kembali ke Madinah dengan tangan kosong dan 'hanya' bersama RasuluLlah Muhammad SAW?

Lupakah kita dengan Ka'ab bin Malik, salah satu alumnus badar yang telah dijamin oleh Allah SWT bahwa mereka (para alumni perang badar) dipersilahkan berbuat sekehendak hati mereka? Tapi tetap saja mendapat 'boikot' dari Rasul saw dan sahabat selama 40 hari. 'hanya' lantaran absen dari 1 peperangan.

MENTALITAS. Satu kata yang mungkin bisa sedikit mewakili. Terlalu nyaman dengan suasana yang telah ada, sehingga tidak lagi ada keinginan untuk beranjak. Sementara, hey... tidak pernah ada cerita bahwa jalan dakwah itu mulus dan dipenuhi hamparan rumput lembut dan bunga2 indah.

Hanya kekhawatiran saja, semoga tidak menjelma kenyataan. Mudah-mudahan fenomena bermunculannya band2 cowok (?) belakangan ini tidak menular ke ruang jiwa kita. Taruhlah KANGEN BAND, ST 12, KERIS PATIH, ASBAK BAND, dan sejenisnya yang hampir semua lagunya hanya menggambarkan 'kelemahan jiwa' dan 'mentalitas cengeng'. Selalu saja menyisakan pertanyaan di benak saya 'Mereka laki-laki apa bukan sih?' Memalukan saja.

Tapi sudahlah. Mungkin trend yang ada sekarang memang seperti itu. Modernisasi. Mungkin juga (seperti kata Dedy Mizwar dalam Naga Bonar jadi 2) bahwa 'salah saya yang hidup di zamanmu'. Tidak bisa mengikuti laju perkembangan yang begitu cepat.

'jadi rindu dengan kajian Sirah nabawiyah yang sering dibawakan ust Surya Dharma LC, di mushoLla sederhana bernama Adz-Dzarrah'

Thursday, July 31, 2008

Tentang Seseorang 6

Baru kulihat gambarmu yang mengenakan toga. Dengan senyum dan style khas yang selalu menjadi cirimu. Telat, memang. Tapi izinkan aku mengucapkan selamat untuk kelulusanmu. 3 tahun 9 bulan. Benar ya? Waktu akademis menyelesaikan program S1. Seperti targetmu awal kuliah. Salut.

Aku mengenalmu memang sebagai sosok pekerja keras. Tak pernah menyerah untuk segala yang berada dalam list mimpi-mimpimu. Masih terekam dalam kepalaku, bagaimana dulu dirimu selalu bercerita dengan semangat tentang keinginan besarmu melanjutkan S2 di luar negeri. Dengan biaya dari tangan-tanganmu yang bekerja sendiri. Semoga bara semangat itu tetap terjaga sampai detik kau membaca catataan kecil ini.

Kecintaanmu pada buku, bukan menjadi hal yang aneh bagiku. Melihat keseriusan dan perhatianmu pada ilmu pengetahuan dan perluasan cakrawala berpikirmu tentang dunia. Jujur, aku kadang-kadang masih merindukan berdebat denganmu tentang buku atau novel-novel terbaru yang baru saja kau lahap.

Tapi semua itu tak menghalangimu untuk tetap berada di lingkaran fun. Masih kau nikmati juga hari dengan berjalan-jalan, menonton film, bahkan bercanda dengan sahabatmu. Keunikan dalam memadukan sisi kuat akademis analitis dalam dirimu dengan sisi kreatif imajinatif menjadikan hidup benar-benar kau nikmati sepenuhnya. Benar salah, entahlah. Setidaknya kebebasan berekspresimu selalu meninggalkan senyum kecil di sudut bibirku.

Don’t ever stop, dreaming your dream. Izinkan juga aku mengucapkan kembali kalimat ini. Dengan dunia berbeda yang akan kau hadapi dengan dunia kampus, tetap saja tak menyisakan keraguan pada diriku bahwa kau akan mampu melewati peralihan ini. Sebab kau pemberani! [Mudah-mudahan malam ini langit cerah dan dapat kulihat BINTANG itu ^_^]

Ur bro [Muhammad Ilham, alhamduliLlah sudah jadi Happy_Samurai]

*Eh, anime vision of escaflowne-ku dah lengkap. Dan entah mengapa, angel with black wing’s menjadi kelihatan lebih futuristik di mataku ^_^, hehehe.

Friday, June 27, 2008

Sunday, June 15, 2008

[... ... ... ... ...]

Diam? Tak mengapalah. Sekarang diri ini memang harus belajar menyimak dan memperhatikan. Menyimak. Dari bisikan angin yang bertasbih memuja keagungan kuasa-Nya, sampai teriakan keras masyarakat yang dikategorikan kelas rendahan tentang membumbungnya harga BBM dan bahan kebutuhan pokok. Memperhatikan. Dari semut merah yang merambat pelan menelusuri jejak remah-remah sisa makanan dengan tetap 'bersosialisasi' sesama komunitasnya, sampai ulah makhluk yang diciptakan dengan sebaik-baik bentuk (ahsani takwim) yang masih saja merangkul erat bumi, dan mendekamkannya dalam nurani.

Diam? Tak mengapalah. Sebab lidah ini sudah terlalu sering mengalirkan dusta. Entah besar atau kecil. Banyak sudah hati dan perasaan tersakiti karena kesalahan dengan tidak terkontrolnya ucapan. Sahabat menjauh, teman menyingkir. Lawan makin mendengki. Mendekap ulang kepercayaan, menjadi sesuatu yang sulit. Silaturahim…ah, beberapa menjelang di ambang kritis titik putus.

Diam? Tak mengapalah. Lelah juga hati ini mengikuti perjalanan ucapan merangkai kata yang kadang tak tuntas di ujung janji. Sementara kesadaran masih nyata akan sabda Rasul mulia SAW tentang peringatan akan salah satu cirri munafik. Bila berjanji, dia ingkar. Rabb, hindarkan diri ini dari sifat demikian. Tidak ada daya dan kekuatan, selain dengan pertolongan-Mu.


Diam… … … …
--- --- ---

Hujan menderas malam itu. Menangisi dosa manusia yang tak juga cepat kembali ke ampunan Rabbnya. Setidaknya, demikian yang ada dalam pikiran kalutku. Takut? Iya, sangat.

Di hadapannya, aku hanya tertunduk meremas dan membolak-balik HP.

Namun wajah teduh itu tetap dengan senyuman kebapakannya. “Akhi, Ibnu Taimiyah berkata, jangan sampai kesalahan dan dosa yang kalian lakukan menghalangi kalian dari mengatakan dan mengerjakan kebaikan!” “Iya, antum salah. Dan saya tidak bisa memberikan saran apa-apa selain banyak-banyaklah beristighfar kepada-Nya. Dia Maha Penyayang, pengampun dosa hamba-hambaNya. Jika manusia yang berdosa dating dengan dosa sebesar gunung, maka Ia akan dating dengan ampunan yang juga sebesar gunung. Tidak pernah kurang Kasih Sayang-Nya pada makhluk-Nya sedikitpun.”

Namun diam dari kebaikan, menyebar nasihat perbaikan, bahkan dari beramal, bukanlah sesuatu yang harus dilakukan. Bagaimana antum akan mengganti dosa dan kesalahan jika semuanya antum harus diamkan?”


---

Diam? Iya. Diam dari berkata dusta dan sia-sia. Diam dari janji yang kemungkinan tak bisa dipenuhi. Diam dari perkataan menyakitkan. Bahkan, kata TIDAK harus mulai dibiasakan. namun mengatakan kebenaran, nasihat kebaikan, dan amal kebaikan, tidak pernah ada kata diam untuk semua itu.

Ayo, bersama belajar mengendalikan ucapan ^_^


Wednesday, February 27, 2008

bila hati rindu menikah [part 8]

Diri, sudah sejauh manakah perjalanan hidup ini telah terlangkah? Entah, kusadari atau tidak, belakangan ternyata aku tidak lagi menghitungnya. Dengan tarikan nafas per sekian detiknya ataukah dengan jumlah amalan yang tertera. Mengukur hidup dengan skala maksiat dan kebajikan, jujur akan mendatangkan banyak ajaran kearifan bagi hati yang masih menyisakan setitik kelembutan dalam kerak kekerasannya.

Dalam hitungan 2 purnama lebih, bentangan kesia-siaan kembali terhampar. Mengulang kesalahan yang telah lalu? Ah, bukankah kau sendiri telah mengatakan tidak akan ambil bagian bahkan pada barisan paling belakang dari antrian keledai yang untuk jatuh dua kali pada jebakan yang sama tidak lagi mereka ridho?

Entah, namun membenci diri sendiri tetaplah sesuatu yang tidak akan membantu. Jujur pada nurani, lebih menyejukkan. Ternyata kesombongan diri yang melenakan masih saja bertahta di sana. Kau kemanakan ‘tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan ALLAH?’ sekedar lintasan yang dogmatis tanpa pernah mewujud menjadi sebuah keyakinan ideologi? Lalu kesalahan kau timpakan kepada hatimu yang masih juga gampang terlena? Sepakat, bahwa IA dengan iradah-Nya menguasai hati manusia. Tapi bukankah tak pernah lekang dalam doamu di akhir sholat agar tidak membolak-balikkan hatimu dalam hal agama dan dakwah?

Hey...bukankah inti hidup ada di sini? Untuk memenangkan tarikan kebaikan itu di atas ajakan kemaksiatan? PERJUANGAN. Arrggg....mengapa kesadaran itu selalu datang belakangan sementara kala kelapangan menyapa, hampir tak sekalipun matamu menangkap makna Ilahiyah dalam setiap gerakan. Lalu.... ah, aku merindukan sujud panjang menentramkan, dalam doa setelah ikhtiar bahwa di atas segalanya, ada ENGKAU Yang Maha Mengatur.

Berhenti? Iya, harus. Sebab ALLAH SWT masih mencintaimu. IA masih membuatmu merasakan kesedihan, agar bisa sedikit belajar memaknai arti kegembiraan. Seperti hujan, yang sesekali harus turun di antara kehangatan cahaya matahari

---

Katamu, masih ada banyak pelangi di luar sana. Ya saya tahu. Bahkan masih sering melihat lengkungan sempurnanya di bentangan langit sana setelah hujan. Namun sekarang aku sudah berhenti mengejar pelangi itu. Sebab, sampai kapanpun tak akan pernah bisa kurengkuh.

Menyesal? Tidak. Bukankah sudah kukatakan bahwa aku harus bersyukur kareka ALLAH SWT masih mencintaiku? Terbukti, perjalananku mencari pelangi membekaskan banyak pelajaran keindahan. Tentang cinta, kasih sayang, pengorbanan, perjuangan dan beragam hal indah lainnya. Terima kasih telah menjadi salah satu guru dalam kehidupanku. Dengan perantaraan dirimu, ALLAH SWT kembali menunjukkan padaku bahwa hidup dengan segala suka dukanya, tengah mengajarkan kepada kita semua rangkaian hijaiyyah segala sesuatu. Alif...Ba...Ta...

Monday, December 3, 2007

jangan lupakan AKAD ini...

Dengan segenap kemantapan jiwa pada raga
Yang kuucapkan dari kedalaman fikirku akan janji-Nya
Dengan mahar seperangkat alat kemenangan dan seribu dinar syahid fi sabilillah
Yang telah kupersiapkan di penjuru kamp Jenin
yang telah menunggumu di Ramallah yang berdebu
Yang telah terbungkus rapi di Al-Aqsho pada puing
Aku tak pernah ragu akan kesiapanmu
Sebab lantang suara qalbu telah kudengar
dari jejak-jejak doamu yang menggema di sepanjang malam tak berkesudahan
Aku tak pernah ragu dengan pilihanku
Sebab telah jelas Allah yang selalu melindungiku
Memberiku kemantapan pada istikharah Jalur Gaza dan sudut kota
Bahwa kau adalah calon mempelaiku
Dan akan serta hidupkan raga
Pada hentakan mortir di sudut kota
Pada lontar mesiu tank baja
Pada sumber api panas nyala
Kupinang engkau dan saksikanlah;
Bumi segera menyeruak memberi jalan

Tuesday, November 13, 2007

[kontemplasi]

Menatap gejolak yang meluap yang menghanguskan dan meluluhlantakkan dunia islam;
Ada yang harus dilakukan
Menyimak kedzaliman dan penindasan yang menimpa dan mencengkram dunia islam;
Ada yang harus dikerjakan
Bukan semata merenung, kemudian meneteskan air mata
Bukan semata menjerit atau bertakbir
Ada yang dilakukan adalah menyiapkan diri menjadi anak panah-anak panah yang siap dilepaskan
Atau peluru-peluru yang siap ditembakkan.
Atau tombak-tombak yang siap dilontarkan.
Atau pedang-pedang yang siap diayunkan.
Menyadari keangkuhan dan kesombongan yang mengangkangi dan menindas dunia islam;
Ada yang harus disiapkan
Keikhlasan diri, kebulatan tekad, kekuatan jasad dan keteguhan materi
Menyikapi kehancuran yang melanda dunia islam;
Di tengah kelesuan, kelemahan dan tidur panjang umat islam;
Langkah yang dilakukan harus penuh kesungguhan
Bukan semata bicara panjang lebar tanpa kerja yang nyata
Atau semata mengungkapkan kebobrokan namun dengan penuh ragu dan kecenderungan
Adalah memantapkan diri bahwa selembar jadwal bukan sekedar rencana kosong
Bahwa tiap goresan pena adalah kesungguhan
Dengan keprihatinan bahwa kesabaran adalah cambuk untuk menegakkan keadilan
Merenungi langkah yang harus dilakukan untuk masa depan dunia islam;
Ada yang harus ditegaskan
Kemantapan diri, kekuatan azzam, kemurnian asas, dan kejelasan tujuan

Sunday, October 21, 2007

Laki-laki dan air mata

Salah satu persangkaan yang banyak digunakan orang dan menjelma menjadi sebuah pandangan umum adalah tentang gambaran seorang laki-laki. Sosoknya dicitrakan sebagai makhluk yang perkasa, kuat, penuh ambisi untuk menaklukkan dunia. Hingga tak disisakan sedikitpun ruang untuk kehalusan rasa dan air mata. Bila benar demikian, bagaimana mungkin ia akan mampu mengemban amanah Allah swt yang dibebankan di kedua tangan dan pundaknya? Padahal, keperkasaan yang terkadang menjelma menjadi kegarangan, di suatu waktu atau peristiwa akan mengembun. Sebab, di kedalaman nuraninya tetap saja ada kelembutan yang bertahta.

Cengeng, banci dan gelaran lainnya akan segera tersemat di belakang mereka ketika diketahui bahwa mereka sering bahkan selalu menangis. Padahal, bukankah mereka juga manusia yang sama dengan perempuan? Sama-sama memiliki hati dan perasaan untuk mencerna semua masalah yang menghadang di depannya? Lalu kesalahannya dimana?

Jika tangisan atau air mata itu menderas untuk sebuah kekecewaan, kesia-siaan, patah semangat tanpa keinginan untuk bangkit lagi, atau bukan di jalan Allah swt, julukan seperti di atas mungkin (sekali lagi mungkin) bisa dialamatkan kepada laki-laki. Namun bagaimana kita memaknai derasan air mata yang lahir dari kegundahan hati laki-laki yang melihat kondisi ummat ini masih saja terpuruk di lembah terdalam kejahiliyahan? Merasa belum berbuat maksimal untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan sana? Atau mata yang kaca kala mengingat belum sempurna kecintaannya kepada Sang Khaliq dan RasulNya yang mulia?

Bagaimana pula dengan isakan mereka di penghujung malam, kala mengingat dan menghitung-hitung dosanya di hari lalu, sementara jaminan syurga tak ada sedikitpun dalam genggaman? Mengenang keterpurukan nilai-nilai suci ISLAM yang tenggelam oleh ummatnya sendiri lantaran masing-masing bertahan dengan ego dan pemahaman jamaah tempatnya belajar mengkaji semuanya sementara usaha yang dilakukannya untuk menyatukan mereka hampir tak mendapat tempat sama sekali?

Bagaimana pula dengan rintihan tertahan para laki-laki yang belum juga mampu menyadarkan anak perempuan atau istrinya agar berhijab dengan sempurna? Atau kala mengetahui bahwa anaknya menjalin hubungan dengan seseorang yang bukan mahromnya dalam sebuah ikatan yang bukan pernikahan?

Ah, mungkin kita semua harus belajar membaca makna. Mencerna segala sesuatu dari kandungan isi tanpa tertipu penampilan luar. Untuk apa dan siapa air mata itu harus mengalir. Seperti tangisan Muhammad saw Sang Teladan. Padahal sejarah mencatat beliau sebagai seorang panglima perang yang paling cerdas di segala medan. Yang paling tegar di hadapan semua cobaan dan fitnah. Yang paling tegas di hadapan kaum kuffar. Namun, tetap saja matanya mengalirkan air kala bersujud di hadapan Rabbnya, atau kala mengingat semua ummatnya yang belum juga sempurna mengabdi pada Rabb Semesta Alam.

nb : inspired from akhwat bandung yang belakangan jadi teman diskusi lewat e-mail. afwan, belum izin. Mudah-mudahan ga keberatan.

Wednesday, October 10, 2007

Jelang fitri di akhir Ramadhan

Kesedihan yang wajar, saat sesuatu yang dicintai bergerak perlahan meninggalkan kita. Menjauh, dalam kebersamaan yang sangat singkat. Entah dengan kebersamaan seperti apa yang tertoreh dalam perjalanan selama bersama, jelasnya akan meninggalkan kenangan sendiri di suatu sudut jiwa. Apa yang disisakannya sebagai catatan sejarah, akan dibawa menghadap-Nya kelak sebagai bagian dari pertanggungjawaban desah nafas dalam rangkaian hari kehidupan.


Kerinduan yang akan menyeruak. Dalam banyak kenangan indah. Di keheningan malam dalam puncak tahajud, siang yang menyediakan beragam pilihan amal nyata kebaikan, bahkan dalam kesederhanaan berbuka dengan 2 kegembiraan tertinggi seperti yang telah dijanjikan Sang Maha Pengatur pergerakan seluruh alam raya.


Ramadhan memang telah di ambang gerbang akhir dalam perjalanannya membersamai kita. Sekejap, dalam hitungan jam pergerakan bulan di angkasa sana dia akan menuntaskan kunjungan rutinnya sekali dalam 12 purnama yang sempurna. Fitri menjelang, dalam syawal yang menjanjikan kemenangan atas perang melawan hawa nafsu.


TaqaBbalaLlahu miNna wa Minkum, Shiyaamana wa shiyaamukum. Semoga Allah SWT menerima semua ibadah puasa kita dan berkenan memasukkan kita dalam golongan orang yang bertakwa di hari kemenangan yang menggembirakan. Amiin Ya Rabbal 'Alamin

Thursday, October 4, 2007

rapuh....lagi?

Masih dalam pelataran hari. Mengeja semesta dalam rangkaian hijaiyyah amalan yang menggoreskan jutaan mimpi tanpa batas. Detik terus tertoreh, mempergilirkan gelap dan terang di ambang cakrawala. Lukisan malam masih ditaburi jutaan bintang, senada siang dengan terang mentari dengan putih cahayanya. Suka duka tetap beriringan, sebagai dua sunnatuLlah alam yang menjadi keharusan. Sepi, kembali hadir. Masih tetap dengan status sebagai teman sejati.

Lelah, keresahan melingkupi jiwa. Dalam derasan air mata, kembali sujud panjang menjadi pilihan. Lemah, rapuh dalam langkah kehidupan yang semakin menguras energi fisik dan jiwa. Kesetiaan, yang pernah terpatri azzam kembali terkhianati dengan lintasan pikiran yang meragukan. Cinta dalam hati, masih saja terkotori nafsu dan tahta keinginan yang jauh dari rahmat-Mu.

Maaf, belum juga sempurna cinta ini untuk harapan semata kasih sayang-Mu. Meskipun, mahabbah yang telah coba kuperbaharui dan kuluruskan semata di atas jalan-Mu tetap kuusahakan menjadi raja di atas segalanya.

Jauh, perasaan lemah ini kembali hinggap. Kotor, dalam kubangan dosa yang kembali menarik keinginan ini untuk merangkulnya dalam kesenangan sesaat. Maaf, aku kembali mengetuk di pintu-Mu. Aku semakin takut, apakah rukuk dan sujudku membekas rahmat dalam keridhoan-Mu. Aku ingin kembali dalam kehangatan pelukan-Mu, di sela taubat yang terucap lirih. Ampunilah dosa dan kesalahanku. Meskipun, dalam cinta dan taubat yang juga belum sempurna.

Kerinduan ini, kembali membuncah untuk suatu damba akan cinta-Mu. Meskipun dalam kekerdilan jiwa yang paling rapuh, aku sadar tak ada setitikpun nilai diri ini yang Engkau butuhkan. Saat seluruh penduduk langit dan bumi bersekutu untuk tidak menganggap diriMu sebagai Rabb, tetap saja tak mengurangi setitik dzarrahpun kemuliaan DzatMu. Sama halnya ketika kebalikannya yang berlaku.

Keinginan tinggi seperti pinta Abu Nawas, bahwa diri ini tak layak ke syurga-Mu,namun tak juga sanggup dan kuat jika dilempar ke neraka-Mu. Rabbi, tetaplah buka jalan lurus itu kepadaku. Sekali lagi, meski dengan cinta yang belum juga sanggup bermetamorfosis sempurna.

nb : aku tak ingin berada dalam barisan akhir rombongan keledai yang bahkan mereka pun tak ingin terjatuh dua kali dalam lubang/kesalahan yang sama

Tuesday, October 2, 2007

seperempat abad lebih setahun



Hey...
ke arah mana langkahmu sejauh ini?

Wednesday, September 12, 2007

Karena IA begitu INDAH ...

Ramadhan

Ada kesejukan dalam udara yang dialirkannya. Yang mengisi kekosongan rongga dengan kejernihan iman. Ada kesenyapan yang menentramkan, dalam sujud panjang di akhir malam sebagai nafilah, dengan kedudukan tinggi sebagai balasan. Ada kegembiraan tak terkira, saat dahaga tersegarkan waktu adzan magrib berkumandang. Atau kebersamaan yang hangat, kala duduk bersama dengan keluarga bersantap sahur dengan iringan kalam suci.

Terik siang menjadi sejuk, dengan tangan di atas. Berbagi dengan sang fakir dan miskin. Kata yang biasanya banyak tersia berganti pahala lewat alunan dzikir dan tilawah yang bercahaya. Senyum peneduh hati, menjadi hiasan hari dalam pergaulan. Nafsu teredam, hati tunduk. Dengan bayangan syurga di ambang tertinggi pengharapan.

Di sinilah, salah satu madrasah perjuangan kehidupan. Menempa kecemerlangan hati. Memupuk pengorbanan suci, bina iman dan mujahadah. Dengan bekal takwa sebagai pegangan.

Sunnah melesat wajib, menumbuhkan 10, 100, 700, 1000, ... dan bertambah hingga hanya Sang Khalik saja yang tahu balasannya. Semua kebaikan, berkumpul dengan sempurna di dalamnya, tanpa cela sedikitpun. Bahkan musuh abadi anak cucu Adam harus menahan geram karena terbelenggu. Robbi, andai saja setiap bulan adalah RAMADHAN...

*buat semua yang pernah interaksi sama ilo’, maaf kalo selama ini banyak salah dan dosa. Semoga kita kembali fitri di akhirnya. Amin...