Wednesday, December 13, 2006

Terima Kasih, Cinta.

Apa kabar cinta? 2 pekan tidak bertemu denganmu, telah memahat rindu yang makin dalam di relung hatiku. Meresahkan pikiranku yang diam dari diskusi hangatmu yang selalu menemaniku hingga jarum jam menunjukkan pukul 23.00 lewat. Kerinduan yang 2 pekan membuat mataku selalu terjaga di tepi tidur, karena kesepian yang asing dalam belantara dunia yang bersatu mengoyak nilai idealisme yang menyelimuti langit jiwaku.

Aku kangen. Kangen dengan suara indahmu yang selalu menyadarkanku akan kekhilafan yang kuperbuat. Kangen dengan teguran lembutmu, ketika melihat reaksi emosionalku merespon semua ketidakadilan yang bertahta di tanah ini. Untuk tetap memintaku berjuang, namun dengan marhalah yang terstruktur, bukan dengan penyikapan perasaan semata. Kangen dengan ketegasanmu yang memintaku bertahan, bergabung dengan para arsitek peradaban, menyatu dengan serpihan ombak yang lain, menanti tiupan angin untuk kemudian menjelma menjadi gelombang besar, ketika ketergesa-gesaan mulai singgah di tanah batinku.

Aku kangen. Kangen dengan kehangatan yang kau alirkan setiap kali tanganmu menjabat erat tanganku. Kangen dengan tepukan lembutmu di bahuku, menguatkan, ketika melihat wajahku tertunduk karena beban masalah yang mengganjal. Kangen dengan senyum dan tatapan matamu, yang selalu menguatkan tekadku agar tetap lurus melangkah di jalan cita-cita dan harapan yang penuh aral menghadang dan kedzoliman yang merajalela.

Sampai malam ini, ketika kedua kakiku kembali menapaki pelataran rumahmu. Kerinduan itu makin membuncah. Hujan yang turun sejak sore tidak menyurutkan langkahku untuk segera melangkah ke pintumu, mengetuk dan mengucapkan salam penghuni syurga. Engkau masih menyambutku seperti dahulu. Dengan senyuman yang selalu menentramkan kegelisahan hatiku. Dengan keramahan yang selalu menjadi ciri khasmu, mempersilahkanku masuk ke ruangan yang selalu bercahaya, dipenuhi ayat-ayat cinta yang tak pernah lekang meluncur dari kedua bibirmu yang tak pernah kering dari dzikir. Engkau masih tetap memintaku duduk dekat denganmu, mendengarkan semua keluh-kesahku akan rumitnya teka-teki kehidupan yang harus kupecahkan.

Cinta, sungguh. Kehadiranmu telah mendatangkan warna baru dalam pelangi kehidupanku. Mengangkat jasad kotor ini dari jurang kelam, yang sempat bercengkrama mesra dengan kepekatan maksiat. Engkau masih setia menjadi tetesan air, menyegarkan padang pasir akan
dahagaku tentang hakikat segala sesuatunya. Yang tak bosan mengalir, membasahi semua lorong jiwa, akal, dan imanku yang masih gersang tergerus erosi kejahiliyahan.

Cinta, doa yang kau ajarkan kepadaku, di tiap waktu akan ikatan hati agar dikekalkan dalam mahabbah, yang setia menjadi penutup pertemuan kita, masih abadi di tiap subuh, ketika malaikat menembus pintu langit, mengabarkan kepada Rabb Semesta Alam akan kesungguhanku untuk terus berjalan menuju perbaikan diri.

Terima Kasih, Cinta.

tribute to : sahabat yang tetap setia mengikuti kajian di Lingkar Quantum. Kalianlah taman cinta itu. Kalianlah pelaku cinta itu. Karena, ketika orang bertanya tentang cinta kepadaku, aku akan menjawabnya : KALIANLAH CINTA ITU!

Monday, December 11, 2006

surat buat bunda

Bunda, aku capek, lelah. Kehidupan di luar sana benar-benar sangat tidak bersahabat. Individualisme seolah menjadi keharusan. Hukum rimba yang menjadi patokan. Tidak peduli bagaimana nasib orang lain, yang penting diri sendiri bisa hidup. Kejujuran menjadi sesuatu yang langka. Sangat susah menemukannya. Tampil dengan penuh kepalsuan. Seperti manusia-manusia yang merayakan pesta topeng pada zaman Romeo-Juliet dulu. Susah menebak jati diri mereka yang sesungguhnya.

Kadang mereka menghampiri dengan ramah penuh senyuman. Menjabat tangan dengan kehangatan. Namun setelah itu, seringai mereka muncul seperti iblis yang menyeramkan dengan dua tanduk merah di atas kepalanya. Berceloteh tanpa beban, merekam semua jejak kesalahan dan kebobrokan mereka yang dianggap musuh atau saingan untuk dikemudian hari digunakan sebagai senjata untuk menjatuhkan wibawa dan kehormatannya.

Sungguh bunda, praktek-praktek mafia yang sering aku saksikan di layar kaca, menjelma nyata di hadapanku. Mungkin belum sekasar mafia hongkong yang saling kejar, membunuh dengan menggunakan senjata tajam atau senjata api. Memang tidak sesadis mafia italia yang selalu menghancurkan musuhnya dengan tindakan yang sangat susah diterima oleh logika berpikir yang masih sehat. Namun, prinsip yang mereka gunakan sama, ‘jatuhkan yang lain, entah bagaimana caranya asalkan yang menang adalah kita’.

Bunda, aku minta maaf kalau aku menangis. Beban itu berat. Ideologi yang kupunya benar-benar dipertaruhkan. Aku ingat, seorang sahabat pernah menasehatiku ‘Ideologi yang kita punya, baru disebut ideologi jika ia dibenturkan dengan ideologi yang lain. Dan itu akan banyak terjadi di dunia luar kampus. Jika engkau menganggap dirimu sudah memiliki ideologi, namun masih sebatas teriakan di kampus-kampus, ia belumlah nyata. Ideologi itu masih berupa khayalan’.

Bayangkan, bunda. Sampai-sampai mereka ‘memaksa’ agar aku mengikuti 'cara bermain’ mereka yang sama sekali tidak bisa diiriskan dengan ideologi yang telah mengakar di jasad dan jiwaku. Dengan iming-iming harta, bahkan ketika ditolak, mereka malah mengancam akan menamatkan karir bahkan hidupku.

Padahal, bagaimana mungkin aku bisa menerima aturan yang mereka anut? Engkau telah mengajarkan kepadaku akan hakikat kejujuran. Untuk senantiasa bertahan berjalan di atasnya, bagaimanapun sukar dan pahitnya resiko yang akan kuhadapi sebagai konsekuensi istiqomah di atasnya. Lagipula, batinku masih sadar. Bahwa akan ada hari dimana semua hal akan dipertanggungjawabkan.

Namun bunda, waktu aku mencoba menjelaskan tentang ini, mereka malah tertawa sinis. ‘Kalau ingin bertahan hidup, tanggalkan idealismemu!’ Mereka menjawab seperti itu. Mereka mencemooh prinsip hidup yang telah bertahun-tahun kujalani. Menganggap diriku kolot, bodoh dan tidak mengerti tantangan hidup.

Bunda, aku capek. Lelah. Namun aku tidak akan menyerah. Aku tidak ingin tanganku berlumur darah orang yang tidak berdosa. Aku tidak ingin melacurkan ideologiku dengan harta dunia yang sangat sedikit dan nista. Aku tidak rela daging di tubuhku tumbuh dari sesuatu yang haram. Rasul mengajarkan aku seperti itu.

Bunda, aku menulis surat ini bukan untuk berkeluh kesah menyesali hidup. Sebab, nasehatmu masih tetap terpatri utuh di sanubariku. Bahwa hidup adalah perjuangan. Dan kita baru memiliki arti jika berjuang untuk mempertahankan sesuatu yang kita yakini. Aku menulis ini semata untuk menegaskan kepada diriku sendiri, bahwa perjuangan benar-benar melelahkan. Dan bahwa bertahan dengan nilai kebenaran yang kita yakini, akan mendatangkan kenikmatan tersendiri. Meskipun harus menguras energi fisik dan jiwa.

Bunda, aku tidak akan berkata seperti pada tahun pertama aku mendapat gelar sebagai seorang mahasiswa. Ketika berbenturan untuk pertama kali dengan realitas kerasnya kehidupan. ‘Bunda, aku rindu menjadi anak kecil. Hidup tanpa beban, tertawa bermain sepuasnya. Jika ada masalah, akan selalu ada sosok yang akan menolong kita. Sesosok malaikat yang kita sebut ibu’. Aku tidak akan mengatakan lagi kalimat itu. Sebab, masih jelas dalam ingatanku kemarahanmu sebagai reaksi dari pernyataanku. ‘Engkau harus mampu hidup di masa depan! Sebab ini yang akan kau hadapi. Jangan pernah berpikir memutar waktu ke masa lalu. Sebab itu adalah hal yang mustahil. Tidak ada yang mudah daam hidup ini. Bangkit, dan beranilah. Hadapi semua tantangan yang ada didepanmu dengan kepala tegak. Engkau seorang laki-laki. Terlebih, engkau adalah seorang muslim!’

Bunda, engkau benar. Makanya alhamduliLlah sampai sekarang aku masih bisa bertahan. Namun, sungguh. Meskipun aku tidak akan mengulang lagi kalimat di atas, dan diriku bukan lagi anak kecil, namun bagiku engkau tetaplah sosok malaikat yang selalu ada tiap kali keresahan melanda dan semangatku butuh direcharge. Sosok yang selalu menginspirasi semua perubahan yang melandasi gerak langkahku dengan untaian nasehat yang tak pernah putus.

Bunda, aku rindu ingin berbaring lagi di pangkuanmu tiap selesai sholat maghrib dan subuh, mendengar lantunan ayat suci al-qur’an yang mengalir indah dari bibirmu. Dan usapan lembut tanganmu di kepalaku, memberkahiku dengan sejuta doa peneguh hati dan harapan akan kemenangan jiwa.

Bunda, aku memang capek dan lelah. Aku mengatakan ini semata mencoba jujur pada diri sendiri, bahwa aku hanyalah manusia biasa. Namun aku tidak akan menyerah. Tetaplah berdo'a untukku.

Bunda, aku bangga menjadi anakmu!

nb: catatan perjalanan 8 hari di kota Bandar Madani parepare.

Wednesday, December 6, 2006

Kematian Nurani

Entah apa yang ada dalam benak aleg DPRD kita yang melakoni aktivitas mesum dengan seorang penyanyi dangdut yang terkenal religius saat merekam adegan bejatnya menjadi sebuah video yang menggambarkan kegersangan nurani mereka akan nilai sebuah kesucian dan kebaikan. Namun yang pasti, apapun alasannya kejahatan tetaplah kejahatan yang tidak boleh ditolerir. Apalagi jika dilakukan oleh mereka yang secara konstitusi kenegaraan, seharusnya menjadi teladan bagi rakyat yang telah mempercayakan suara dan aspirasi di pundaknya.

Entah apa yang melintas dalam hati keduanya, saat aib mereka terbongkar di hadapan public. Yang dengan tenang menceritakan awal mula perkenalan sampai berlangsungnya ‘praktek kebinatangan’ yang mereka lakukan sambil sesekali mengusap air mata yang meluncur turun dari sudut matanya. Atau memohon maaf kepada masyarakat, mengundurkan diri dari jabatan publik dengan permohonan tertulis atau melalui mulut para pengacara dan juru bicaranya. Namun sejatinya, keburukan tetaplah keburukan. Seindah apapun polesan untuk membenarkannya, tetap saja secara hakiki telah mencederai nilai kemanusiaan yang murni. Melukai martabat kesucian fitrah, dan mengotori aktivitas perilaku insan yang diagungkan oleh Penciptanya dengan sebaik-baik bentuk.

Bukan…bukan menghujat atau menjatuhkan wibawa seseorang atau sekelompok masyarakat. Tidak pula mencaci maki atau mengungkapkan aib dan kesalahan orang lain. Tapi semata hanya keprihatinan diri akan kehancuran moral yang makin menghitam, mengelilingi lingkungan keseharian kita. Merangkul semua strata social masyarakat kita, dari petinggi negeri sampai gembel di emperan jalan. Seperti mendung yang menghalangi kehangatan cahaya mentari ketika hujan badai akan singgah di bumi.

---oOo---

Laqod’ khalaq’nal insaana fii ahsani taqwiim. Dan Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk. Demikian Al-Qur’an suci berbicara. Dengan karunia akal dan hati, yang mengangkat derajatnya melebihi semua makhluk semesta. Bahkan malaikat dan iblis, 2 makhluk yang diciptakan dari anasir cahaya dan api diperintahkan bersujud di hadapan kita (manusia) sebagai bukti keagungan yang dianugerahkan Sang Khaliq (Pencipta) kepada sosok yang dihargai dengan sebutan al-insaan.

Namun, mengapa gelar kehormatan itu justru kita tanggalkan? Malah berbangga dengan perilaku yang tak lagi memiliki perbedaan dengan binatang yang tidak dibekali dengan karakteristik akal dan nurani? Dipendam dimana perasaan malu yang menjadi perhiasan abadi iman kita? Kemudian memilih meruntuhkan tembok kemuliaan dan bersinergi dengan musuh abadi yang menjadi seteru kita sejak dahulu?

Ah... Tuhan Maha Pengampun. Bukankah ia selalu menerima taubat? Pintu ampunan-Nya seluas langit dan bumi kan? Kita kan diberi kebebasan untuk memilih, tidak ada salahnya dong...!

Tidak...tidak semudah itu kita membenarkan semua tindakan yang menjadi pilihan hidup kita. Sebab, hidup tetaplah perjuangan. Filosofi ini belum berubah. Ingatlah, status kehormatan ini kita dapatkan bukan dengan sim salabim. Tapi melalui proses yang rumit. Belajar. Ketika kita diminta oleh Sang Khaliq untuk menyebutkan semua nama benda yang ada di jagad ini, kita bisa. Dan ini karena ilham (pencerahan) yang ditanamkan Rabb di pengetahuan kita dengan proses belajar. Sebab ini adalah pertanggungjawaban. Terlebih, ajal datang tidak pernah memilih. Dalam kebaikankah atau saat diri sementara larut dalam gelimang kenistaan dosa dan maksiat.

Maka memilih antara kebaikan dan keburukan yang menghampar di hadapan kita, pilihan kebaikan haruslah tetap menempati posisi tertinggi. Jauh mengalahkan semua versi keburukan, bagaimanapun hebat dan menariknya syahwat terhadap segala keindahan dan tipu dayanya. Atau, akankah kita bungkam karena tidak mampu menjawab, saat ditanyakan status -kemanusiaan- kita di pengadilan akhirat kelak?

Ilahi...anta yaa Rahman... kebeningan cahaya nurani ini akan makin memudar. Diselimuti gelap pekat kabut angkara yang ditebarkan oleh syahwat dan kemaksiatan. Jika bukan karena hidayah, cinta dan kasih sayang-Mu, tentulah diri ini pun akan berkubang dalam kemaksiatan yang menistakan. Robb, jangan lepaskan kami dari dekapan-Mu..

Thursday, November 30, 2006

Memaknai pilihan hidup

Terkadang, kita ingin menjadi elang, dengan kekokohan sayapnya mampu membumbung tinggi menjelajah angkasa. Terbang menembus cakrawala di kejernihan biru langit. Jauh, meninggalkan bumi fana yang berselimut debu. Wujud sebuah kekuatan.

Namun jika kita tidak bisa, menjadi seperti burung pipit yang kecil tidaklah masalah. Yang dengan kegesitan gerakannya, mampu meramaikan kesejukan pagi dengan kicauan beningnya, menghiasi langit sore dengan kawanannya yang berkumpul, meloncat kecil dari dahan satu ke dahan lain. Meminum air bersama dalam satu wadah. Alokasi sebuah hubungan sosial yang tercipta dari ketulusan hati.

Atau merekah merah laksana mawar, cantik dan menarik perhatian banyak makhluk. Mengundangnya untuk menikmati keharuman khasnya yang mewangi. Menghiasi hari dengan mahkotanya yang lembut. Menjaga diri dengan duri tajamnya sebagai benteng. Ibarat ratu yang belum tersentuh kesuraman jiwa. Pantulan sebuah kecantikan.

Namun, menjadi melati tidaklah kalah menawan. Mungil, putih bercahaya dalam kesucian. Sederhana, namun selalu setia mengukir sejarah dengan harapan. Kokoh terlindungi dalam rimbunan sesamanya, memancarkan keindahan yang fitri. Bayangan potret kesederhanaan yang menawan.

Atau, inginkah kita menjelma seperti gunung? Tinggi menjulang, puncaknya menembus awan. Berdiri tegar, seperti penguasa bermahkota seribu emas di singgasananya. Menjadi benteng kokoh bagi yang berlindung di belakang punggungnya? Kekuasaan yang bertahta.

Tidak masalah. Namun menjadi laut juga pilihan menarik.Dengan keramahannya gerakannya mengizinkan kapal berlayar di atasnya. Bercengkrama bersama angin, menciptakan ombak yang mengirim sejuta keindahan yang menentramkan hati. Menyatu dengan langit di pandangan terjauh menjadi satu garis lurus tak berujung. Kesempurnaan idealisme.

Saudaraku, manakah dari posisi itu yang kita pilih? Terserah. Namun, apapun bentuk dari pilihan itu, jadikanlah yang terbaik! Berkontribusi maksimal untuk keseimbangan alami semesta raya ini.

Demikian, ketika kita menjadi manusia, maka tunduklah. Jadikan tafakkur menjadi bagian hari-harimu. Sebab, Langit, bumi, bintang, matahari, pepohonan, semua binatang dan tumbuhan sujud bertasbih memuji keagungan kuasa-Nya. Maka, kita sebagai manusia lebih –harus- melakukan semua itu. Pembuktian sebagai khalifah Allah di muka bumi, harus tegak dengan kepatuhan ikhlas akan semua iman, ilmu dan aktivitas yang berwujud amal sesuai tuntunan syariah aturan-Nya.

Tribute to : Ade-ade binaanku di kampus dan sekolah, yang masih terus berusaha mencari hakikat jati diri. Teruslah berjuang, jangan pernah menyerah. Di satu tempat, cahaya abadi itu akan menyinarimu.

Wednesday, November 29, 2006

Teman Sejati Kehidupan


Seperti malam dengan siang, matahari dan bulan, demikianlah Sang Kreator menciptakan semua yang ada di alam semesta ini berpasangan.
***

Gundah...
Mungkin banyak yang merasakan seperti ini. Saat usia makin merambah naik sementara dia yang diharapkan sebagai pendamping hidup belum juga datang. Menunggu akan menjadi pekerjaan yang melelahkan jiwa. Sendiri dalam kesunyian yang sepi. Keresahan yang selalu melingkupi dan bersanding dengan lantunan harapan dan bening air di sudut mata yang tidak jarang menjelma menjadi anak sungai. Menorehkan luka dalam mimpi, yang memupuskan harapan bagi jiwa rapuh yang tidak memiliki sandaran kokoh dalam tiap kepingan asa.

Saat malam menurunkan tirainya menyelubungi bumi dengan jubah kegelapan, sesosok lintasan bayangan kadang hadir bermetamorfosis sempurna. Namun maya, seperti fatamorgana yang indah dipandang. Entah siapa dan dimana wujud aslinya. Maka kekecewaan terlampiaskan pada kelamnya malam. Kebisuan yang hening, tubuh yang lelah mencoba bersahabat dengan aliran waktu yang entah bermuara di samudera mana, dengan harapan segera menyatu dengan belahan jiwa.

Cinta dan kasih sayang. Banyak pahlawan telah lahir dari rahimnya. Bergerak, berjuang menuju puncak kejayaan yang menggoreskan jejak emas sejarah di belakangnya. Yang menjadi rel tempat berjalan bagi generasi selanjutnya yang akan melanjutkan visi perjuangannya. Namun, cinta juga melahirkan pengecut. Yang mengorbankan pilihan atas idealisme kehidupan. Seperti pedang, yang jika kita tidak tahu cara menggunakannya, jiwa kita yang akan menjadi korban.

Ditambah dengan persepsi tentang keindahan dan nilai modernisasi yang ditawarkan beragam pilihan hidup, maka jalan menuju jurang kehancuran atas nama cinta makin terbuka tanpa rintangan berarti. Memuaskan nafsu tanpa peduli sisi kanan kirinya ada yang mencatat semua drama kehidupan yang dilakoninya.

Belahan jiwa, dimanakah engkau berada? Akankah engkau membiarkan mimpi indah tentang pernikahan terkubur bersama harapan hidup yang kian redup diterjang segala isme yang menyebarkan virus kematian harga diri?

Tidak...! cita-cita itu tidak boleh mati. Atau hidup tapi sekedar larut dalam keterlenaan yang menyesatkan. Maka ketika dia sang pujaan hati belum hadir, bertahanlah di sana. Tunggu sampai Sang Pemberi Cinta memilihkan yang terbaik buat menemani hari-harimu. Jangan kau rusak hatimu dengan harapan semu akan kenikmatan yang hakikatnya adalah jalan kehancuran dan penyesalan abadi. Apalagi sampai menggadaikan hal paling berharga dalam kehidupan ; AQIDAH.

Tetaplah memohon pada-Nya. Agar meluruskan niat dan azzam-mu akan hadirnya dia untuk membantumu menyempurnakan setengah dien/agama. Sehingga bersama pasangan tercinta, bisa membangun istana luas yang bertabur bunga kesejukan dan tetesan embun sakinah, mawaddah dan rahmah. Kalau sekarang dia belum datang, maka matangkanlah persiapanmu untuk menyambutnya. Sehingga tidak ada penyesalan ketika perjalanan telah dimulai bersama pasangan hidup.

Sambil mempersiapkan diri untuk hal itu, jangan pernah lupakan persiapan lain. Persiapan yang semata bukan untuk pasangan hidup yang akan menjadi istri kita kelak, tapi untuk pasangan HIDUP yang sejati, KEMATIAN.

*Hadiah buat jiwaku yang sudah 25 tahun membujang

Sunday, November 26, 2006

pilihan cerdas ; kesabaran dan kesyukuran

Keberhasilan dan kegagalan adalah 2 sisi yang akan selalu hadir. Demikian kesenangan dan kekecewaan, karena segalanya memang diciptakan berpasangan. Keseimbangan inilah yang membuat semesta raya ini tetap mengorbit sesuai jalurnya. Keserasian inilah yang membuat kehidupan bisa terus bergerak.

Di atas semuanya, kepada Sang Maha Pencipta faktor keseimbangan, jasad dan jiwa ini wajib tunduk, luruh dalam dekapan sujud yang membawa cinta terbang, mengetuk pintu langit menyampaikan sejuta apresiasi tentang hakikat kemanusiaan. Tentang keberhasilan yang menyapa, kesenangan yang tertawa riang. Senyuman mengembang, memeluk hari dengan harapan puncak akan abadi. Serta tentang kegagalan yang mengetuk, kekecewaan yang mengiringinya dengan tatapan suram dan wajah tanpa cahaya. Seolah, bumi terasa sempit menyesakkan dada. Bernafaspun kadang terasa berat.
***

Sebulan ini, AlhamduliLlah berhasil menyelesaikan 2 web site. Web site PKS Sul-Sel yang sudah bisa diakses dan web site DPRD parepare yang masih menunggu proses distribusi Infokom ke internet. Senang? Gembira? Wah... jangan ditanya lagi, happy berat,hehehe. Sampai sempat teriak-teriak kegirangan. Bukan apa-apa, waktu pertama kali belajar buat web site, susahnya minta ampun. Harus 'memaksa' otak 'putar-putar' belajar php mysql dari tingkat nol. Kemudian belajar mendesain, yang pastinya dibutuhkan tingkat imajinasi yang tidak rendah. Setelahnya, dibutuhkan kesabaran untuk input data, ngurus domain dan account hosting yang kadang butuh waktu paling cepat 2 hari (itu juga kalo lancar, tidak ditolak). Makanya pas web pertama jadi (web pemkab mamuju), wuiihhh...senang banget bro/sist. Padahal tampilan dan format databasenya 'sederhana sekali' dibanding format web site yang dikelola oleh kalangan profesional (web master). Tapi ini saja sudah menjadi salah satu -keberhasilan- yang menyenangkan.

Ketika bulan ini berhasil menyelesaikan 2 web, meskipun sempat dibuat dongkol oleh pihak MWN yang lama banget pas ngurus account hosting-nya, akhirnya sekali lagi -keberhasilan- datang mengetuk ke pintuku. AlhamduliLlah ya Rabb... Terima Kasih.

Kegembiraan pun kembali terluapkan. Tertawa lepas, menghabiskan waktu setengah jam menjelang maghrib dengan bercanda bersama teman-teman, serta dengar nasyid. Beban yang sempat 'mampir' di pundak terasa menghilang. Yang ada adalah kelegaan, kelapangan, dan keluasan. Jiwaku bernyanyi, menari mengelilingi samudera harapan dan impian. Larut dalam keterlenaan. Sampai sempat merasa diri sudah sangat hebat, bisa ikut ambil posisi dalam deretan mereka yang dijuluki web master.

Sampai malam ini, tiba-tiba saja jiwaku langsung terdiam. deretan kalimat yang pernah keluar dari lisan salah satu tokoh karismatik negeri ini, Almarhum Ustadz Rahmat Abdullah (semoga Allah SWt merahmati beliau) menghentak dalam ke sanubariku. Menampar keras ego dan logika berpikirku.

"Merendahlah,
engkau kan seperti bintang-gemintang
Berkilau di pandang orang
Diatas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi
Janganlah seperti asap
Yang mengangkat diri tinggi di langit
Padahal dirinya rendah-hina"
***

Rabb... nuraniku seketika tersadar. Memang, tidaklah salah bergembira ketika keberhasilan datang. Namun hatiku berbisik 'Jangan berlebihan. Ingatlah, semuanya itu anugerah dari Yang Maha Pengasih yang akan dipertanggungjawabkan kelak di Yaumul Hisab.Ketika hasil akhir yang kau capai tidak sesuai dengan harapan semula, maka bersabarlah. Itu baik. Pun ketika cita-cita tercapai sesuai skenario rancangan awal, bersyukurlah. Dan itu pun baik. Jangan larut dalam euforia semu, yang membuat langkahmu akan berhenti bergerak, sementara puncak kejayaan masih terlalu tinggi menjulang. Perjalananmu belumlah apa-apa. Maka jangan pernah mentolerir jiwamu untuk sebuah keangkuhan, jangan menyisakan ruang dan waktu untuk sesuatu yang bernama kesombongan!'

AlhamduliLlah, terima kasih yaa Allah. Engkau masih mencintai diri ini dengan menegurnya agar bisa mengambil ibroh/pelajaran tentang 2 sisi kehidupan yang saling terjalin satu sama lain. Pelajaran sederhana namun besar, tentang salah satu hakikat dan makna dari kesabaran dan kesyukuran. Tentang kemuliaan dan kehinaan, lewat catatan seorang guru kami, Almarhum Ustadz Rahmat Abdullah.

Wednesday, November 22, 2006

Cermin 2000-2006

7 tahun sudah tapak langkah membekas di satu pelataran baru. Meninggalkan jejak matahari yang lain, di beragam kerasnya cadas kehidupan. Bergerak, terus mencari muara aliran perjalanan. Namun kenangan kelam masa silam masih saja mengikuti. Menjadi bayangan yang selalu setia menempel di belakang tiap kali wajah menantang matahari. Sesulit itukah merubah diri? Oooo...ternyata benar. Sosok manusia, ke-aku-an diri adalah hasil dari masa lalu, kumpulan lembaran catatan perjalanan yang telah ditorehkan di perputaran detik.

Namun, hidup tetaplah sebuah pertarungan bukan? Sebab, sudah hukum alam segala sesuatu itu berpasangan, entah serasi ataukah kontras berlawanan, namun dualisme yang terikat ini yang senantiasa menyertai pilihan hidup.

Harapan masih harus disemaikan. Rasul mulia mengajarkan, hijrahnya seseorang ke dalam islam akan menghapus semua masa lalu kejahiliyahannya. Namun mungkinkah diri ini masuk dalam kategorinya? Robbi...andai berangan-angan itu diperbolehkan, aku akan memohon seperti *UNGU, dengan lagu ANDAI Ku TAHU-nya* Namun kupahami,meskipun amal mengangkasa, hanya iradah dan keridhoan-Mu yang mutlak,

7 tahun sudah keunikan ideologi baru mengalir masuk dalam kepribadian lemah, yang masih terseok-seok mencari makna sejati perjalanan. Membongkar benteng egoisme yang berdiri kokoh. Menelisik relung kesombongan yang kadang masih bersemayam laksana labirin tanpa kejelasan arah. Meski terkadang, menara keangkuhan itu masih saja mencoba tampil lebih tinggi, mendongak menerobos ke puncak awan kemuliaan dan izzah.

7 tahun mengembara bersama, sanggupkah menghapus dan mengganti kesuraman masa lalu dengan kemuliaan? Tidaklah cukup, sebab hijrah diri pun teryata masih belum totalitas! Aku masih mencari bagian mana yg masih setengah-setengah itu!
Generasi Qur'ani Yang Unik, yang pernah muncul di lembaran sejarah telah mendeskripsikan. Dengan memilih ideologi sempurna, maka semua bagian ideologi masa lalu tidak ada yang boleh ikut. Semuanya harus ditanggalkan, sebab tidak akan pernah bisa didamaikan. Ia tidak seperti minyak dan air yang bisa disatukan dan diikat dengan menggunakan detergen sebagi katalisator. Ia mewujud dalam magnet 2 kutub, yang memastikan eksistensi, jika sama-sama mengusung sebuah nilai, maka akan berseberangan selamanya. Tidak ada jalan tengah.

Entah, tahun berjalan berikutnya, di bagian jejak matahari mana jasad ini akan bermandi cahaya. Perjalanan masih berlanjut, sampai visi menemukan keluasan abadi yang menenangkan, seperti air, yang akhirnya bersatu kembali di samudera biru yang berbatasan horison dengan cakrawala.

Entah kapan, tapi aku berharap samudera itu ada di sini, di pelataran baru yang selama 7 tahun sudah diri bergabung. Menceburkan jasad dan ruh di kebeningan airnya, bermain, berjuang bersama makhluk Tuhan yang lain, tidak lagi sekedar sapaan angin dan jejak matahari belaka.

Menyerah berjalan mengembara sendirian? Tidak! Aku tidak mau menjadi pengecut. Namun jika kedamaian dan kebenaran perjalanan itu ternyata benar bermuara di sini, buat apa lagi berjalan sendirian, mencari jejak baru yang masih belum pasti?

Tapi aku yakin, masih ada perjalanan lain yang akan kulakoni. Mungkin pengembaraan ideologi sejenak atau bahkan selamanya 'mengaso di sini. Namun, pengembaraan logika, angan, dan impian, mungkin masih akan terus berlanjut. MUNGKIN!