Wednesday, January 3, 2007

Idul Adha; Kita dan Mereka

Ucapan riang selamat idul adha menghiasi langit-langit rumah yang sejuk dengan hembusan AC atau putaran kipas angin yang terpasang kokoh di dinding dengan pantulan indah warna cat tembok yang makin menambah asri suasana ruang yang menjadi miniatur istana kita. Tegur sapa dan senyum manis berbalut kebahagiaan terlukis sempurna di lekukan bibir tiap anggota keluarga. Saling bersalaman, berangkulan hangat sesama saudara dan kerabat keluarga. Memaafkan, dengan azzam kebersamaan yang terikat dengan pertalian darah dan pertemanan. Di sini, di lingkungan kita.

Rintihan pilu kesakitan dan kesedihan mengangkasa di langit semesta. Menguap keluar dari tenda lusuh kumuh yang berbaris berdempetan di kamp-kamp Tepi Barat, RamaLlah, Hebron, Sabra-Syatila, dan perbatasan tanah negara tetangga. Panas sahara makin terpanggang oleh mentari sesiangan yang memancarkan sinar ke padang pasir berbatu yang kering. Mereka saling menatap dalam kebisuan. Hanya dzikruLlah dan keyakinan akan NashruLlah yang tetap setia mengalir dari bibir mereka. Saling menguatkan, untuk janji abadi yang menjadi sunnatuLlah kebangkitan menuju kejayaan. Di sana, di belahan bumi islam lain.

Denting gelas berisi beraneka minuman dingin pelepas dahaga berjejer rapi di tepi-tepi meja di ruangan tamu dan keluarga kita. Di sertai dengan piring berisi kue enak plus beras dan daging qurban yang telah diracik menjadi beraneka ragam makanan dengan nama asing. Duduk bersama, menikmati di sela-sela tontonan lewat kotak ajaib yang juga menayangkan jenis acara yang sama. Anak-anak berlari gembira dengan tangan kanan memegang coklat dan mulut masih berlepotan sisa es krim. Di sini, di rumah kita.

Deru pesawat pemburu membelah angkasa. Menebar aroma maut di hati para pengungsi yang tetap tsiqoh memegang ideology keyakinannya. Rentetan peluru dan ledakan granat menjadi menu utama harian, sama seperti sebelum-sebelumnya. Jangan bermimpi mendapati minuman dingin yang menyegarkan tenggorokan di panas sahara, atau makanan pengganjal perut yang bergizi. Sebotol air mineral hasil rebutan dengan berjuta manusia, serta sepotong roti keras sisa kemarin sudah menjadi mewah untuk dikonsumsi. Hanya kesungguhan dan tekad kuat yang akan disapati di wajah dan tangan anak-anak di sana. Dengan puncak kegeraman yang menghiasi diam bibir mereka. Di sana, di negeri muslim yang bertarung untuk eksistensi.

Idul Qurban dengan makna pengorbanan sejati, apakah yang disisakannya di hati kita?

Kado Awal Tahun

Jaringan Internet keluar wilayah asia terputus.
Kapal Laut senapati tenggelam
Adam Air Kecelakaan
Makassar 'dikunjungi' banjir dan angin kencang

Adakah solusi lain selain taubat nasional?

Penggalan masa lalu

kita pernah saling berbuat salah
Dan kita belajar bersama saling memaafkan
masihkah kau menyimpan dendam,
menyisakan benci dan kemarahan,
di sudut terkecil dari perasaanmu?

Maaf...

Sunday, December 24, 2006

Mencari Jejak Syuhada

Barangkali esok atau lusa
Tak kau temui lagi anakmu
aku berangkat membawa pesan dan doamu
untuk negeriku

Sampirkan pedang Khalid Ibnul Walid
di pinggangku
Mungkin dapat kugelorakan
Semangat Yarmuk

Atau kau titipkan panah Usamah Bin Said
untuk kulesatkan
dan rangkaian doa-doa di keheningan
sampai terkirim darah untukmu...

Muhammad Ilham [syahid_lover@yahoo.com]
nb : puisi singkat to my mother

Teguran [catatan kecil yang menyadarkan]

Sabtu, 23 desember 2006
- Alfa dzikir pas naik motor, akhirnya jatuh. AlhamduliLlah ga ada luka serius. "cuma" kaki keseleo sampai sekarang.

Ahad, 24 desember 2006
- Tilawah kurang 1 juz, di shout box blog -ku dikunjungi seseorang yang ngaku bernama -Erla-. Pesannya biasa saja, memuji template blog-ku. Waktu saya kunjungi balik, AstaghfiruLlah, ternyata blogger mesum! Langsung saja login ke oggix, delete name, URL dan message-nya.

Ilahi, ampuni kekhilafan hamba. Jangan lepaskan kami dari dekapan Kasih Sayang-Mu.

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa" [Q.S. Ali Imran : 133]

"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui." [Q.S. Ali Imran : 35]

Friday, December 22, 2006

Mata dengan Ideologi Semesta

Lesatkan kebisuanmu. Biarkan angin membisikkan realitas ini. Tentang Palestina, Kosovo, Chechnya, Moro, Patani, dan bentangan negeri Muslim lainnya yang namanya kerap tak terjamah oleh kosa kata hati kita. Tentang tenda-tenda kumuh, yang robek di segala sisi. Berjejer di tepi padang gersang. Tentang jeritan bocah kecil dalam tangisan bisu untuk kematian orang tua dan sanak keluarganya. Tentang bangunan-bangunan yang dirobohkan. Semua berbicara 1 kenyataan : Angkara murka yang berotasi dengan keangkuhannya!

Panas sahara menjadi saksi. Tentang hijau kedamaian yang terkoyak. Aroma mesiu dan ledakan granat memeluk kematian dalam sapuan kanvas melukis malam penuh dendam. Nurani terpenjara. Hati membatu. Bertarung untuk memperjuangkan nilai sebuah kebohongan sejarah yang lebih pantas menjadi sampah di pojokan gelap. Terbius perilaku iblis yang menjelma ke dalam sosok jiwa bertubuh manusia.

Jejeran panjang lelaki renta, anak-anak dan wanita bergerak sampai tapal batas negara sebelah. Tidak pernah ada alasan yang rasional. Semata berikrar -Isyhadu bianna muslimin-, kekejaman itu menghampiri. Terpampang jelas diperagakan bangsa kera yang tak pernah tahu menghargai kasih sayang Rabbul Izzati. Meneruskan parade panjang kebiadabannya sejak dahulu ketika mulai membunuh para manusia mulia utusan Sang Qadhi. Izzah menjadi pertaruhan. Untuk sebuah eksistensi yang terkoyak.

Maka lihatlah di sana! Di sudut-sudut kemah yang tersisa, berdiri menantang badai. Bocah kecil dengan tatapan tajam bening berbagi sepotong roti keras yang sudah basi dengan adiknya. Lusuh baju yang membungkus tubuh tirusnya tak kuasa menahan dinginnya udara gurun malam hari. Duduk melingkar, mencoba untuk menghadirkan kehangatan keluarga yang kini tersisa cerita indah di sudut hati. Kepada siapa keceriaan itu mesti dibagi? Sementara, merengkuhnya saja sudah separuh nafas. Itupun masih harus mempertaruhkan hidup di ujung senjata.

Pasir cadas tegak mengamati. Puing reruntuhan bangunan menggeliat resah. Batu berbicara. Serentak, bersatu mendekap tubuh kecil yang paham makna hakikat perjuangan hidup. Dalam tatapan mata bocah kecil itu, berpijar nyawa kehidupan. IDEOLOGI SEMESTA!

nb: sampai detik ini, pijar apakah yang membara di mata kita?

Thursday, December 21, 2006

ibu, rahim kasih sayang

ibu --> sumber mata air kesejukan yang tak pernah kering
ibu --> kehangatan mentari yang selalu menghidupkan pijar semangat
ibu --> akar cinta dan kasih sayang tak terbatas
ibu --> sosok suci yang lembut dalam ketegasan
ibu --> inspirasi yang tak pernah padam
ibu --> bening mata yang menentramkan
ibu --> malaikat sempurna dalam jaga dan tidur
ibu --> untaian doa, harapan, dan cita-cita yang tak pernah putus
ibu --> bara pengorbanan tanpa pamrih
ibu --> cahaya permata kehidupan
ibu --> mujahidah agung pendidik generasi

Betapapun kulukiskan segala makna yang melekat dalam gelarmu, takkan cukup semua kata terangkai menjadi prosa sejarah. Cinta dan keikhlasan pengorbananmu takkan terbalas meski kupertaruhkan seribu nyawa kehidupanku. Dalam keluh kesahmu, ada rahmat yang mengalir. Dalam harap cemasmu, ada rahim kasih sayang yang mengalun.

Sajadahmu tak pernah kering dengan air mata permohonan, agar putramu tidak ingkar kepada Tuhannya. Cahaya wajahmu terus bersinar, berbasuh gemercik air di sepertiga akhir malam. Melantunkan kalam Ilahi dengan kerinduan di keheningan semesta. Munajat di akhir sholat, menerbangkan puncak harapmu menembus bintang-bintang. Mengetuk pintu langit tempat Arsy Yang Maha Rahman bertahta.

Kedudukan muliamu tak tergantikan. Cukuplah bahwa manusia terbaik yang pernah hadir dalam pentas kehidupan, RasuluLlah Muhammad SAW, juga lahir dari rahim manusia yang bermahkota IBU. Surga diletakkan di bawah telapak kakimu. Dan Sabda Agungnya tentang kebenaran, menyebut gelarmu 3 kali lebih banyak dibandingkan ayah.

Maafkan, aku anakmu belum juga sempurna mengabdi pada keluasan kasih sayangmu.

nb : 8 tahun sudah aku tak menyertaimu melewati Mother's Day