Sunday, May 20, 2007

Internet dalam bingkai pendidikan [Lomba Penulisan Entry Blog: Pendidikan, di komunitas AM]

INTERNET DALAM BINGKAI PENDIDIKAN

PENDAHULUAN

Tahun 1960-an, Departemen Pertahanan Amerika Serikat dengan Proyek ARPA mengembangkan jaringan komputer untuk pertama kalinya. Beberapa komputer mainframe dihubungkan dalam sebuah jaringan. Pada tahapan awal, ARPA menghubungkan empat komputer kerangka yangterletak di Stanford Research Institute, University of California di Los Angeles dan Santa Barbera, dan University of Utah. Tujuan awalnya adalah bagaimana dalam jaringan tersebut, tiap komputer dapat saling mengambil dan memindahkan data melalui beberapa jalur komunikasi yang berlainan. Dalam tahun-tahun berikutnya berbagai macam jaringan komputer dihubungkan kepada ARPANET dan keseluruhan jaringan tersebut membentuk internet.

INTERNET, DUA SISI MATA PEDANG

Di abad teknologi sekarang ini, perkembangannya telah ikut merambah dunia pendidikan. Dengan hadirnya teknologi informasi dalam beragam sisi kehidupan, banyak masalah dan kesulitan dapat teratasi. Akses informasi menjadi mudah dan cepat. Semuanya dapat diperoleh cukup dengan menekan tuts-tuts keyboard di mana saja kita berada.

Dalam konteks ini, mencoba menghadirkan internet dalam ruang pendidikan menjadi sebuah keniscayaan. Apalagi dengan semakin terjangkaunya harga komputer dan pemasangan jaringan, membuat penggunaan internet makin meluas. Dikenallah istilah penetrasi jaringan internet di sekolah dan kampus. Tujuan paling sederhana, adalah bagaimana setiap komponen masyarakat bisa makin akrab dengan komputer dan dunia internet. Sumber-sumber terbatas yang selama ini hanya disediakan oleh sekolah/kampus dan perpustakaan, dapat dilengkapi dengan berselancar di dunia maya. Contoh paling sederhana adalah dengan memanfaatkan situs wikipedia yang menyediakan beragam bahasa yang berfungsi sebagai perpustakaan online.

Dengan internet, semua yang terjadi di belahan dunia dapat dilihat dan diketahui saat itu juga. Semua jenis ilmu pengetahuan dan wawasan menjadi terbuka buat siapa saja. Bahkan, berkomunikasi dengan siapa saja di seluruh pelosok, bukanlah hal yang mustahil.

Perkembangan e-learning (belajar sistem elektronik) dengan virtual school (sekolah virtual), membuat model pendidikan menjadi lebih dinamis, dibanding duduk diam mendengar para pendidik menjelaskan poin demi poin yang ada dalam diktat atau buku cetak. Forum interaktif sebagai sarana percakapan dan berdiskusi dengan orang lain di tempat yang berbeda menjadi salah satu alternatif yang menyenangkan. Membaca buku, artikel dan makalah secara online sambil menikmati musik favorit merepresentasikan cara belajar quantum, seperti yang dipopulerkan oleh bobby de potter.

Namun tidak berbeda dengan semua hal yang diciptakan di dunia ini secara berpasangan, sisi baik dari perkembangan teknologi internet juga dibarengi dengan sisi buruk. Yang paling nyata dan merusak adalah item-item asusila yang tak bermoral dari beragam tinjauan dengan mudah dapat di akses di jaringan internet. Sementara pengguna terbanyak dari fasilitas ini adalah remaja yang masih dalam tahap pertumbuhan dan pencarian identitas diri.

Maka bukan menjadi hal yang aneh, jika dalam masyarakat ditemukan banyak kasus kerusakan moral dan tindak pidana kejam lainnya yang dilakoni oleh para remaja. Beberapa bahkan melakukan tindak kekerasan pada rekan sebayanya dengan inspirasi yang didapatkan dari game online yang menceritakan tentang vandalisme. Dengan pengaruh pornografi dan pornoaksi, produktifitas belajar para pengguna internet menjadi menurun. Malas, dan hanya mengembarakan hayalan memikirkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Tingkat kriminalitas juga menjadi naik, dan membuat keinginan untuk meningkatkan prestasi menjadi mandeg.

Hal lainnya adalah ‘kecanduan’ yang susah diatasi. Chat online di dunia maya selalu ‘mematikan’ waktu tanpa terasa. Jika temanya mendiskusikan tentang pelajaran dan perkembangan inovasi terbaru, atau saling tukar informasi dalam beragam hal mungkin bukan masalah. Namun dalam beberapa survey acak yang dilakukan, kebanyakan netter yang memanfaatkan sarana chat menggunakannya untuk sekedar bergosip ria bahkan menjurus ke pornografi seperti yang sudah disebutkan di atas.

MENGASAH SISI TAJAM

Seperti pedang yang memiliki dua sisi, jika digunakan oleh orang yang tepat maka akan mendatangkan banyak manfaat. Namun, jika dipakai oleh mereka yang kurang bahkan tidak mengerti, jangankan memetik manfaat bisa jai malah akan melukai diri sendiri.

Dengan berimbangnya manfaat dan keburukan dari perkembangan jaringan internet, menuntut para pelakon IT yang masih memiliki kesadaran untuk memaksimalkan fungsi-fungsi positif dan mengeliminir sisi negatifnya. Fungsi paling mendasar yang harus disebarkan adalah menanamkan kesadaran bagi para netter (sebutan bagi pengguna jaringan internet) untuk berpikir ke arah perbaikan dengan adanya jaringan internet ini. Bukan sebaliknya, yang bisa menghancurkan kemapanan masa depan yang sedang diukirnya.

Penyediaan infrastruktur jaringan komputer, multimedia, video conference dan lain-lain harus diikuti dengan kesiapan sumber daya dan pengoptimalan resource yang ada. Sehingga dapat berjalan seiring dengan peningkatan sisi pendidikan yang dapat diambil dari internet. Pembinaan guru dan orang tua di rumah dan sekolah juga menjadi faktor yang berperan penting dalam meng-counter sisi negatif dari jaringan internet ini. Dengan kerja sama seluruh pihak dan elemen masyarakat, maka pemanfaatan internet sebagai media untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam makna yang sesungguhnya bukanlah menjadi hal yang utopi.

Friday, May 18, 2007

sebuah pertanyaan hidup

Bagi sebagian kita, kehidupan kadang terasa lama berputar. Meskipun sejatinya, dibandingkan kehidupan akhirat, umurnya sangatlah singkat. Beberapa kita kadang merasa jenuh, capek dan bosan. Kemudian merasa hidup ibarat daun yang lepas dari tangkainya. Luruh, dan terbang kemana arah angin membawanya. Tak ada arah yang jelas. Harapan menjadi sirna, karena tujuan hidup menjadi buram. Tak ada lagi nilai yang diperjaungkan di sana, dan semuanya akan berujung pada keputusasaan.

Jika kita sampai pada titik ini, maka ada perbaikan yang harus dilakoni. Sebab hidjup terlalu berharga untuk hanya dibiarkan berjalan seperti air yang mengalir. Minimal, pengharapan akhir harus segera disegarkan kembali. Bahwa muara segala sesuatu adalah pada-Nya, yang menggenggam semua cita dan harapan segala makhluk. Sebab, tidak pernah ada harapan yang benar-benar hilang. Pada-Nya, kita akan selalu mendapat pengharapan sejati.

Maka seiring bertambahnya usia hidup kita di dunia fana ini, sisihkanlah waktu sejenak berdiam diri untuk intropeksi. Memuhasabah semua langkah hidup yang telah diayunkan. Namun bukan sekedar evaluasi kemudian berhenti di sana. Sebab persoalan utamanya adalah menjawab sebuah pertanyaan dalam simpang sejarah ‘ADAKAH YANG HARUS SAYA REVISI DALAM PERJALANAN HIDUP SEJAUH LANGKAH YANG TELAH MENGANTARKAN SAYA SAMPAI DI JEJAK INI?'

*Inspired from tulisannya deen

Tuesday, May 8, 2007

jangan kau bunuh hatimu

Siapakah yang bisa berdamai dengan perasaan? Kita hanyalah makhluk lemah yang dititipi amanah memakmurkan bumi di bawah aturan-Nya. Namun di balik kelemahan itu, ada satu anasir hidup, yang menjadikan kita manusia menjadi sebaik-baik makhluk. Anasir itu bernama hati, yang membuat kita bisa mengekspresikan beragam perasaan.

Dengan hati, kita bisa menangis ketika bersedih. Tertawa kala gembira, marah saat terganggu, dan berbagai bentukan ungkapan lainnya. Semuanya dari hati, yang menggerakkan perasaan untuk mengakumulasikan semua.

Hati, yang membuat seorang ibu rela tidak tidur untuk menjaga buah hatinya. Tanpa peduli kelelahan menggelayut berat di pelupuk mata. Ia pula yang memberikan semangat kepada tiap ayah untuk memeras keringat memenuhi semua kebutuhan keluarganya tanpa menghiraukan beban letih di kedua pundaknya. Begitu dalam makna cinta dan keajaiban yang terkandung dalam hati.

Dengan hati, warna indah dunia terlukis dalam makna cinta, kasih sayang dan perhatian. Dengan hati pula, kebencian, dendam dan angkara murka menghitamkan sejarah jernih kemanusiaan. Meskipun untuk yang terakhir ini, merupakan indikator sakitnya atau bahkan kematian sebuah hati. Begitu misterius cara kerjanya.

Maka jangan pernah membunuh hatimu. Sebab, keberadaannyalah yang membuat nilai kemanusiaan kita berada di puncak keagungan. Sucikan, bersihkan dari semua noda yang dapat mengotori kemurnian niat dan kebeningan pancarannya.

Jika engkau tidak lagi memiliki perasaan untuk semua hal yang terjadi di depan matamu, lihatlah hatimu. Dan jika ia telah terlanjur membatu, mintalah pada Allah agar melembutkannya’.

Tuesday, April 24, 2007

pencarian [edisi resah]

Rabbi, di sini aku mengetuk kembali pintu-Mu. Setelah lama terseret arus dunia yang melenakan dan membuatku lalai. Ruhaniyahku mengering. Energi jiwaku rapuh termakan kesia-siaan yang membuat nafas kehidupan berputar pada lingkaran kosong tanpa makna hakiki.

Rabbi, di sini aku kembali bersimpuh di rumah-Mu. Menyuarakan nada hati pada kegelapan malam yang menidurkan penghuninya. Resah, mengejar target duniawi yang tak pernah habis sampai meskipun ditambah dan ditambah. Sementara, ketenangan yang kuharapkan makin menjauh.

Rabbi, di sini aku bersujud di bawah mihrab keagungan-Mu. Mencoba menangkap sisa-sisa iman yang masih bersinar di pijakan sudut hati. Aku rindu bergabung dalam barisan orang-orang yang mensucikan jiwa dan menghiasi diri dengan akhlak tuntunan Rasul-Mu.

Rabbi, di sini aku menengadahkan tangan, meminta di kebesaran Kuasa-Mu Yang Tak Terbatas. Aku mencari semuanya dalam doa. Aku mencarinya dalam tetasan air mata yang sudah berbilang waktu tak pernah lagi menemukan muaranya. Aku kembali mengembara di jalan-Mu, mencari makna diri dan cinta seperti yang pernah Kau janjikan dalam kalam-Mu yang abadi.

Rabbi, jangan lagi Kau biarkan kaki ini melangkah tanpa panduan-Mu. Jadikan pendengaran, penglihatan, dan semua ruas jasad dan jiwa ini mengikuti tuntunan-Mu, dan jauhkan dari tipu daya musuh abadi manusia yang menyesatkan.

Rabbi, jangan pernah menutup pintu-Mu. Meskipun pengembara miskin sepertiku terlalu banyak menyalahi aturan syariah-Mu. Sebab, ke mana lagi aku harus mengetuk jika pintu-Mu sendiri telah Kau tutup?

Tiada daya dan kekuatan, hanyalah milik-Mu ya Allah.

Friday, April 13, 2007

tentang seseorang 3 [sisi lain]



Aku mengenalmu pertengahan tahun 2004 kemarin. Saat itu seingatku fisikmu masih seperti remaja kebanyakan dengan struktur tubuh yang belum terlalu terbentuk. Kekanak-kanakan, ceria, dan just having fun.

2 tahun lebih sejak pertama mengenalmu, sosokmu banyak berubah. Struktur fisikmu tak usahlah kugambarkan. Untuk mencegah imajinasi liar agar tidak berpikir yang tidak sewajarnya. Cukup dua kata untuk mewakili itu semua. ‘Kecantikan sempurna’.Bahkan adikku yang cewek sendiri bilang seperti itu saat melihat gambar dirimu. Kau juga jadi lebih pendiam, dan [ini yang membuatku gembira] kau makin ‘akrab’ dengan buku. Ini kuketahui saat bercerita denganmu di suatu sore.

3 hari yang lalu, kau mengirimkan satu pesan singkat he HP-ku. ‘Kak, ada yang menyatakan perasannya padaku’. Begitu tulismu. Aku tak menanggapinya. Namun sms berikutnya datang dan masih menyampaikan pesan yang sama. ‘Trus, tanggapanmu gimana?’ kubalas sms-mu. ‘Aku bilang kita sahabatan saja’. 'Kenapa?’ kejarku. ‘Aku takut sama Allah, bukankah hanya orang bodoh yang menukar kesenangan syahwat yang sesaat dengan keabadian surga?’.

Aku tertunduk membaca pesanmu. Malu dengan diri sendiri yang terkadang masih saja bercengkrama dengan dosa. Hujan yang menderas di luar makin menguatkan syukurku bahwa Allah SWT masih memperhatikan diriku dengan menempatkanku di lingkaran orang-orang yang selalu memberikan pencerahan untuk bertahan dalam keteguhan prinsip.

Saturday, April 7, 2007

[melihat dari sisi lain] tentang hujan dan terik

Kita sering mengeluh, saat hujan turun ke bumi. Entah dengan alasan dingin atau jalanan menjadi becek dan tergenang air sehingga menghambat beragam aktivitas luaran kita. Namun saat matahari bersinar terik, keluhan itu tak juga berhenti. Panas, gerah dan berkeringat. Itu sebagian alasan yang terlontar dari lisan .

Sejenak, mari membuka satu jendela lain dari kisi hati kita. Jendela yang terkadang sudah terlalu lama tertutup sehingga menyisakan kegelapan dan udara pengap dalam ruang imajinasinya. Jendela yang kita menyebutnya sebagai ‘renungan’.

Hujan, dengan titik air yang diturunkannya selalu ‘menghidupkan’ bumi setelah ‘matinya’. Tanah menjadi subur. Tumbuhan menjadi lebih segar, sehingga menjadi lebih produktif. Pernahkan kita membayangkan senyum para petani yang berteduh di dangau kecil mereka tiap kali hujan mengaliri sawah ladangnya? Ya, dari mulut mereka tak pernah lekang doa agar hujan bisa turun menghidupkan tanaman.

Panas matahari dengan cahaya yang dipancarkannya pun demikian. Dengan kandungan zat yang dimilikinya, membuat setiap tumbuhan mampu ‘memasak’ makanan untuk pertumbuhannya. Bahkan, setiap makhluk hidup akan mendapatkan supply energi baru tiap kali bersentuhan dengan kehangatan cahaya matahari, yang tak bisa digantikan dengan sumber cahaya lain.

bahkan, perpaduan keduanya selalu menghasilkan sebuah fenomena alam yang terlukis indah di kanvas langit; PELANGI dengan segala keajaiban warna dan lengkungannya.

Lalu, masihkah kita menggerutu dengan hujan dan panas yang dipergilirkan di alam ini?

Monday, April 2, 2007

Sebuah dunia kecil

Aku tidak tahu, sejak kapan mulai senang memperhatikan anak kecil. Bagiku, mereka seperti cermin yang memantulkan bayangan dengan polos, jujur dan apa adanya. Tidak ada ambiguitas yang terinterferensi. Atau kebohongan yang tersamarkan. Murni, apa adanya.

Seperti pagi itu, saat aku berteduh di emperan sebuah toko dari rintik hujan yang mulai menderas. 3 sosok bocah kecil tiba-tiba saja keluar dari rumah sederhana mereka dan langsung berkejaran di bawah siraman dingin hujan. Gembira, tertawa lepas. Tak kudapati beban hidup menggelayuti wajah ceria mereka. Aku tersenyum.

Atau suatu waktu, malam hari setelah pulang kerja di sebuah pete-pete [angkutan mahasiswa dan umum]. Seorang anak dengan damai menyandarkan kepala kecilnya di pangkuan ibunya kemudian tertidur. Tidak memperdulikan kebisingan dunia yang hilir mudik berseliweran di sekitarnya. Pun ketika suatu malam, saat singgah membeli martabak di sekitaran Jalan Hertasning Baru. Sambil duduk menunggu di atas motor, kutolehkan kepala ke arah suara seorang anak yang merengek. Ternyata ibunya sedang singgah membeli sesuatu di toko, dan ia bersama ayahnya menunggu di atas motor juga sama seperti diriku. Tak lama, sang ibu keluar. Spontanitas, rengekan anak tadi sirna. Berganti senyuman kemudian dengan segera menyambut ibunya dengan pelukan di pinggangnya.

Hmmm…bagi sebagian kita, masa remaja mungkin dianggap sebagai masa yang paling indah. Sehingga banyak di antara kita yang memimpikan untuk mengulang kembali masa itu. Namun, jika saja aku diberikan pilihan untuk bisa kembali ke masa lalu, aku lebih memilih menjadi anak kecil dan bersahabat dengan dunia, tanpa harus mengenakan berbagai bentuk topeng kemunafikan dan kepura-puraan.

[masih dalam kepenatan yang sama, karena dikejar beragam deadline]