Thursday, November 13, 2008

Representasi 'kesepian' (bagian 1)

Bila da'inya bermental ayam negeri yang tidak tahan angin, mudah terkena penyakit sampar, dan mengandalkan jatah makanan olahan, maka kiamat dakwah sudah terdengar serunainya (Rahmat AbduLlah, Untukmu Kader Dakwah)

Ah, mengapa juga kebanyakan kita lebih memilih menjadi segolongan manusia yang baru masuk islam kemudian digembirakan Rasul SAW dengan pembagian harta rampasan perang. Sementara sahabat-sahabat yang teruji keimanan dan keislamannya, kembali ke Madinah dengan tangan kosong dan 'hanya' bersama RasuluLlah Muhammad SAW?

Lupakah kita dengan Ka'ab bin Malik, salah satu alumnus badar yang telah dijamin oleh Allah SWT bahwa mereka (para alumni perang badar) dipersilahkan berbuat sekehendak hati mereka? Tapi tetap saja mendapat 'boikot' dari Rasul saw dan sahabat selama 40 hari. 'hanya' lantaran absen dari 1 peperangan.

MENTALITAS. Satu kata yang mungkin bisa sedikit mewakili. Terlalu nyaman dengan suasana yang telah ada, sehingga tidak lagi ada keinginan untuk beranjak. Sementara, hey... tidak pernah ada cerita bahwa jalan dakwah itu mulus dan dipenuhi hamparan rumput lembut dan bunga2 indah.

Hanya kekhawatiran saja, semoga tidak menjelma kenyataan. Mudah-mudahan fenomena bermunculannya band2 cowok (?) belakangan ini tidak menular ke ruang jiwa kita. Taruhlah KANGEN BAND, ST 12, KERIS PATIH, ASBAK BAND, dan sejenisnya yang hampir semua lagunya hanya menggambarkan 'kelemahan jiwa' dan 'mentalitas cengeng'. Selalu saja menyisakan pertanyaan di benak saya 'Mereka laki-laki apa bukan sih?' Memalukan saja.

Tapi sudahlah. Mungkin trend yang ada sekarang memang seperti itu. Modernisasi. Mungkin juga (seperti kata Dedy Mizwar dalam Naga Bonar jadi 2) bahwa 'salah saya yang hidup di zamanmu'. Tidak bisa mengikuti laju perkembangan yang begitu cepat.

'jadi rindu dengan kajian Sirah nabawiyah yang sering dibawakan ust Surya Dharma LC, di mushoLla sederhana bernama Adz-Dzarrah'

Thursday, July 31, 2008

Tentang Seseorang 6

Baru kulihat gambarmu yang mengenakan toga. Dengan senyum dan style khas yang selalu menjadi cirimu. Telat, memang. Tapi izinkan aku mengucapkan selamat untuk kelulusanmu. 3 tahun 9 bulan. Benar ya? Waktu akademis menyelesaikan program S1. Seperti targetmu awal kuliah. Salut.

Aku mengenalmu memang sebagai sosok pekerja keras. Tak pernah menyerah untuk segala yang berada dalam list mimpi-mimpimu. Masih terekam dalam kepalaku, bagaimana dulu dirimu selalu bercerita dengan semangat tentang keinginan besarmu melanjutkan S2 di luar negeri. Dengan biaya dari tangan-tanganmu yang bekerja sendiri. Semoga bara semangat itu tetap terjaga sampai detik kau membaca catataan kecil ini.

Kecintaanmu pada buku, bukan menjadi hal yang aneh bagiku. Melihat keseriusan dan perhatianmu pada ilmu pengetahuan dan perluasan cakrawala berpikirmu tentang dunia. Jujur, aku kadang-kadang masih merindukan berdebat denganmu tentang buku atau novel-novel terbaru yang baru saja kau lahap.

Tapi semua itu tak menghalangimu untuk tetap berada di lingkaran fun. Masih kau nikmati juga hari dengan berjalan-jalan, menonton film, bahkan bercanda dengan sahabatmu. Keunikan dalam memadukan sisi kuat akademis analitis dalam dirimu dengan sisi kreatif imajinatif menjadikan hidup benar-benar kau nikmati sepenuhnya. Benar salah, entahlah. Setidaknya kebebasan berekspresimu selalu meninggalkan senyum kecil di sudut bibirku.

Don’t ever stop, dreaming your dream. Izinkan juga aku mengucapkan kembali kalimat ini. Dengan dunia berbeda yang akan kau hadapi dengan dunia kampus, tetap saja tak menyisakan keraguan pada diriku bahwa kau akan mampu melewati peralihan ini. Sebab kau pemberani! [Mudah-mudahan malam ini langit cerah dan dapat kulihat BINTANG itu ^_^]

Ur bro [Muhammad Ilham, alhamduliLlah sudah jadi Happy_Samurai]

*Eh, anime vision of escaflowne-ku dah lengkap. Dan entah mengapa, angel with black wing’s menjadi kelihatan lebih futuristik di mataku ^_^, hehehe.

Friday, June 27, 2008

Sunday, June 15, 2008

[... ... ... ... ...]

Diam? Tak mengapalah. Sekarang diri ini memang harus belajar menyimak dan memperhatikan. Menyimak. Dari bisikan angin yang bertasbih memuja keagungan kuasa-Nya, sampai teriakan keras masyarakat yang dikategorikan kelas rendahan tentang membumbungnya harga BBM dan bahan kebutuhan pokok. Memperhatikan. Dari semut merah yang merambat pelan menelusuri jejak remah-remah sisa makanan dengan tetap 'bersosialisasi' sesama komunitasnya, sampai ulah makhluk yang diciptakan dengan sebaik-baik bentuk (ahsani takwim) yang masih saja merangkul erat bumi, dan mendekamkannya dalam nurani.

Diam? Tak mengapalah. Sebab lidah ini sudah terlalu sering mengalirkan dusta. Entah besar atau kecil. Banyak sudah hati dan perasaan tersakiti karena kesalahan dengan tidak terkontrolnya ucapan. Sahabat menjauh, teman menyingkir. Lawan makin mendengki. Mendekap ulang kepercayaan, menjadi sesuatu yang sulit. Silaturahim…ah, beberapa menjelang di ambang kritis titik putus.

Diam? Tak mengapalah. Lelah juga hati ini mengikuti perjalanan ucapan merangkai kata yang kadang tak tuntas di ujung janji. Sementara kesadaran masih nyata akan sabda Rasul mulia SAW tentang peringatan akan salah satu cirri munafik. Bila berjanji, dia ingkar. Rabb, hindarkan diri ini dari sifat demikian. Tidak ada daya dan kekuatan, selain dengan pertolongan-Mu.


Diam… … … …
--- --- ---

Hujan menderas malam itu. Menangisi dosa manusia yang tak juga cepat kembali ke ampunan Rabbnya. Setidaknya, demikian yang ada dalam pikiran kalutku. Takut? Iya, sangat.

Di hadapannya, aku hanya tertunduk meremas dan membolak-balik HP.

Namun wajah teduh itu tetap dengan senyuman kebapakannya. “Akhi, Ibnu Taimiyah berkata, jangan sampai kesalahan dan dosa yang kalian lakukan menghalangi kalian dari mengatakan dan mengerjakan kebaikan!” “Iya, antum salah. Dan saya tidak bisa memberikan saran apa-apa selain banyak-banyaklah beristighfar kepada-Nya. Dia Maha Penyayang, pengampun dosa hamba-hambaNya. Jika manusia yang berdosa dating dengan dosa sebesar gunung, maka Ia akan dating dengan ampunan yang juga sebesar gunung. Tidak pernah kurang Kasih Sayang-Nya pada makhluk-Nya sedikitpun.”

Namun diam dari kebaikan, menyebar nasihat perbaikan, bahkan dari beramal, bukanlah sesuatu yang harus dilakukan. Bagaimana antum akan mengganti dosa dan kesalahan jika semuanya antum harus diamkan?”


---

Diam? Iya. Diam dari berkata dusta dan sia-sia. Diam dari janji yang kemungkinan tak bisa dipenuhi. Diam dari perkataan menyakitkan. Bahkan, kata TIDAK harus mulai dibiasakan. namun mengatakan kebenaran, nasihat kebaikan, dan amal kebaikan, tidak pernah ada kata diam untuk semua itu.

Ayo, bersama belajar mengendalikan ucapan ^_^


Wednesday, February 27, 2008

bila hati rindu menikah [part 8]

Diri, sudah sejauh manakah perjalanan hidup ini telah terlangkah? Entah, kusadari atau tidak, belakangan ternyata aku tidak lagi menghitungnya. Dengan tarikan nafas per sekian detiknya ataukah dengan jumlah amalan yang tertera. Mengukur hidup dengan skala maksiat dan kebajikan, jujur akan mendatangkan banyak ajaran kearifan bagi hati yang masih menyisakan setitik kelembutan dalam kerak kekerasannya.

Dalam hitungan 2 purnama lebih, bentangan kesia-siaan kembali terhampar. Mengulang kesalahan yang telah lalu? Ah, bukankah kau sendiri telah mengatakan tidak akan ambil bagian bahkan pada barisan paling belakang dari antrian keledai yang untuk jatuh dua kali pada jebakan yang sama tidak lagi mereka ridho?

Entah, namun membenci diri sendiri tetaplah sesuatu yang tidak akan membantu. Jujur pada nurani, lebih menyejukkan. Ternyata kesombongan diri yang melenakan masih saja bertahta di sana. Kau kemanakan ‘tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan ALLAH?’ sekedar lintasan yang dogmatis tanpa pernah mewujud menjadi sebuah keyakinan ideologi? Lalu kesalahan kau timpakan kepada hatimu yang masih juga gampang terlena? Sepakat, bahwa IA dengan iradah-Nya menguasai hati manusia. Tapi bukankah tak pernah lekang dalam doamu di akhir sholat agar tidak membolak-balikkan hatimu dalam hal agama dan dakwah?

Hey...bukankah inti hidup ada di sini? Untuk memenangkan tarikan kebaikan itu di atas ajakan kemaksiatan? PERJUANGAN. Arrggg....mengapa kesadaran itu selalu datang belakangan sementara kala kelapangan menyapa, hampir tak sekalipun matamu menangkap makna Ilahiyah dalam setiap gerakan. Lalu.... ah, aku merindukan sujud panjang menentramkan, dalam doa setelah ikhtiar bahwa di atas segalanya, ada ENGKAU Yang Maha Mengatur.

Berhenti? Iya, harus. Sebab ALLAH SWT masih mencintaimu. IA masih membuatmu merasakan kesedihan, agar bisa sedikit belajar memaknai arti kegembiraan. Seperti hujan, yang sesekali harus turun di antara kehangatan cahaya matahari

---

Katamu, masih ada banyak pelangi di luar sana. Ya saya tahu. Bahkan masih sering melihat lengkungan sempurnanya di bentangan langit sana setelah hujan. Namun sekarang aku sudah berhenti mengejar pelangi itu. Sebab, sampai kapanpun tak akan pernah bisa kurengkuh.

Menyesal? Tidak. Bukankah sudah kukatakan bahwa aku harus bersyukur kareka ALLAH SWT masih mencintaiku? Terbukti, perjalananku mencari pelangi membekaskan banyak pelajaran keindahan. Tentang cinta, kasih sayang, pengorbanan, perjuangan dan beragam hal indah lainnya. Terima kasih telah menjadi salah satu guru dalam kehidupanku. Dengan perantaraan dirimu, ALLAH SWT kembali menunjukkan padaku bahwa hidup dengan segala suka dukanya, tengah mengajarkan kepada kita semua rangkaian hijaiyyah segala sesuatu. Alif...Ba...Ta...

Monday, December 3, 2007

jangan lupakan AKAD ini...

Dengan segenap kemantapan jiwa pada raga
Yang kuucapkan dari kedalaman fikirku akan janji-Nya
Dengan mahar seperangkat alat kemenangan dan seribu dinar syahid fi sabilillah
Yang telah kupersiapkan di penjuru kamp Jenin
yang telah menunggumu di Ramallah yang berdebu
Yang telah terbungkus rapi di Al-Aqsho pada puing
Aku tak pernah ragu akan kesiapanmu
Sebab lantang suara qalbu telah kudengar
dari jejak-jejak doamu yang menggema di sepanjang malam tak berkesudahan
Aku tak pernah ragu dengan pilihanku
Sebab telah jelas Allah yang selalu melindungiku
Memberiku kemantapan pada istikharah Jalur Gaza dan sudut kota
Bahwa kau adalah calon mempelaiku
Dan akan serta hidupkan raga
Pada hentakan mortir di sudut kota
Pada lontar mesiu tank baja
Pada sumber api panas nyala
Kupinang engkau dan saksikanlah;
Bumi segera menyeruak memberi jalan