Friday, March 30, 2007

[.................................................................]



Aku rindu sawah. Pada aroma tanah basah selepas hujan. Pada hamparan hijaunya yang menyejukkan. Pada bulir padinya yang menggantung keemasan. Pada gerombolan pipit yang terbang. Pada dangau tempat melepas penat sambil menikmati belaian angin sore.

Aku rindu sawah. Pada pematang tempat berpijak kaki-kaki kecil waktu menaikkan layangan. Pada coklat lumpur yang membenamkan kaki sampai ke lutut saat menangkap ikan atau belut. Pada keriangan jungkir-balik di tumpukan jerami setelah panen.

Klasik…dinamis…sejuk..jauh dari polusi…jujur…

[kepenatan beberapa hari ini saat dikejar beragam deadline membuatku ingin istirahat di tengah hamparan kesejukannya]

Aku rindu sawah…

Thursday, March 29, 2007

[sepenggal fragmen hidup] tentang mimpi yang tak padam*


Kau mengajariku bergaul dengan anak-anak matahari. Menghirup aroma panas debu dan aspal jalanan, menerobos derasnya hujan, begadang menyusun agenda aksi dan perubahan, menjadi sarapan keseharian.

Kau mengajariku untuk mengangkat kepala di hadapan para tiran. Berkata jujur, meskipun di bawah ancaman laras senjata.

Hmmm…terlalu banyak pekan bersejarah yang telah coba kuukir dengan warna yang berbeda. Sejak bersamamu.

Hari ini, aku tersenyum. Saat kau mengundangku untuk menghadiri MILAD-mu. Maaf, aku tidak bisa. Ada amanah lain yang harus aku tunaikan. Bukankah kau pun telah mengajarkanku agar tidak mengkhianati amanah? Kau tertawa. ‘AlhamduliLlah, kau sudah belajar melihat dari banyak sisi. Tidak lagi terpenjara dengan persepsi sempit yang dangkal. Sekarang, kau pun telah paham kan? Mengapa aku memintamu untuk mencintaiku dengan sederhana?’ tanyamu.

Aku mengangguk. Dan di atas motor yang membawaku ke tempat kerja, aku masih sempat mendengar lantang suaramu. Tetap seperti yang dulu, menggetarkan tiran di singgasana kekuasaannya. Tetap menjadi mimpi buruk bagi cita-cita ideology kemunafikan mereka.

Selintas kenangan kembali terputar di benakku. Saat aku menyertaimu beberapa kali dalam aksi. Merasakan kerasnya pentungan, pukulan dan tendangan laras tentara yang harusnya memihak kepada rakyat. Atau saat batu ‘nyasar’ singgah di badanku ketika harus chaos dengan beberapa elemen lain. ‘Berwisata’ di Mabes POLDA seharian. Diinterogasi dan tanpa diberi sesuap makananpun.

Aku merindukan semua itu. Dan aku masih tetap akan memilih itu semua. Sebab, seperti katamu ‘Kebenaran-lah yang akan menang. Meskipun harus menanggung sekian kesulitan


REFORMASI, wait for me!!!

---oOo---

*kado MILAD untuk KAMMI, tempatku belajar dewasa


Wednesday, March 28, 2007

[sepenggal fragmen hidup] tentang universitas kehidupan*

Fragmen 12

Belajarlah membaca dengan hati, bukan dengan pikiran’ kalimat pembuka yang kau ucapkan pagi itu, saat mengajakku ke pinggiran kota. Di deretan rumah-rumah kardus yang saling berdempetan tanpa bentuk. Kumuh, sumpek, hampir tak menyisakan sejengkalpun lorong udara untuk sekedar bernafas dengan lega. Selokan berair hitam yang penuh sampah, mengalir. Menahan nafas sambil berjalan, tetap saja aroma busuk yang menguar memenuhi rongga paru-paru. Aku mual.

Tidak terbiasa ya?’ tanyamu. Aku mengangguk. Tak kuasa membuka mulut. Sambil menengadah ke langit, kau berucap pelan ‘jalan lain masih terbuka untukmu’. ‘Tidak…tidak…aku harus bertahan’. Tekad ini harus menyatu dalam aliran darahku.


Senja mulai memerah di ujung barat. Dalam senyum, kau kembali bertanya ‘Masihkah hatimu membatu melihat sebagian realitas negerimu yang seperti ini?'


Fragmen 13

Udara konflik masih membumbung tinggi. Mengangkasa, seiring dengan asap hitam tebal yang meninggi. Meninggalkan bara jejak api dengan segala keangkuhannya. Anyir darah menggantikan kesegaran udara pagi. Tak ada tawa riang dan kegembiraan anak-anak yang berlari berkejaran di lapangan dan tepian sungai. Toleransi dan kasih sayang tercetak tak berdaya, dalam lembaran putih kertas buku dan pemanis bibir kala pertemuan.

Kau mengajakku ke sana. Di antara desingan peluru, lemparan tombak dan lesatan anak panah. Refleks, aku hanya bisa menggelengkan kepala. Dan kau melangkah dengan tersenyum. Dari kejauhan, masih kulihat sosokmu memapah mereka yang terluka. Dengan penuh kasih, membelai kepala anak-anak yang menangis ketakutan. Membalut luka dan membersihkan darah yang mengotori tubuh para korban yang tak mengerti mengapa harus mengalami hidup seperti itu.

Sekembalimu dari sana, kau berucap ‘Sejarah, hanya mengenang 2 karakter manusia. PEJUANG atau PECUNDANG


Fragmen 14

Masih ingat jalan lurus yang ujungnya tak kelihatan dari tempatmu berdiri waktu itu?’.

Ya’, jawabku.

Sambil mendesah, kau melanjutkan ‘Jalan itu sangat panjang. Ia tak bisa diukur dari usia yang kita punya. Bahkan, umur satu generasi belum bisa membuat perjalanan ke sana akan berakhir. Sekelilingnya dipenuhi onak duri, sesuatu yang tak sempat kau lihat sebelumnya. Kepayahan, peluh, air mata bahkan darah akan menjadi harga mati bagi yang melaluinya. Namun, kebahagiaan sejati ada di sana.

Apa yang harus aku lakukan jika aku tetap memilihnya?

Belajarlah bertahan. Dengarkan selalu suara nuranimu. Jangan menyerah. Sebab, perjuangan baru akan bernilai dengan tekad yang tak pernah padam.

---oOo---

‘Bukan POTENSI, namun PILIHAN yang membuat setiap orang berbeda’

*inspired from 'dia' yang besok akan MILAD. Saat semangat perlawananku kembali membara.

Tuesday, March 27, 2007

[sepenggal fragmen hidup] tentang cinta yang memilih*

Fragmen 9

Kegelapan dan persimpangan. 2 tikungan sejarah yang selalu menyesatkan banyak karakter manusia. Entah dengan suasana mencekam dan mistis yang diciptakannya, yang membuat kaki salah melangkah, ataukah kebimbangan dalam menentukan arah hidup yang menuntut keputusan cepat namun teliti dan benar. Dan jejak langkahku pun akhirnya membawaku bertemu dengannya. Persimpangan yang gelap. Sejenak, keraguan dan kepanikan mulai merasuki indera sadarku. Namun, kau muncul. Dengan putih cahaya yang menerangi sebuah jalan lurus, meskipun ujungnya tak terlihat dari tempatku berdiri.

Fragmen 10

Kegelapan itu tetap tak menyerah. Serentak, ribuan tangan hitam mengarah ke tubuhku. Masing-masing memegang sesuatu yang berbeda dalam genggamannya. Samar, kujumpai banyak bentuk dan jenis warna serta aroma yang memancar dari sana. Kembali, kepanikan menyergapku. Antara keinginan mengikuti, dan bertahan dalam ambang batas kesadaran yang hampir-hampir merubuhkan jasadku. Kau hanya tersenyum, mengulurkan tangan halusmu sambil mengangguk, mengajakku ikut melangkah dalam benderang cahaya putih yang menyelimutimu.

Fragmen 11

Beragam suara kasar memberenggut dalam kegelapan. Teriakan keras yang menguras energi sisa, membuatku limbung, dan akhirnya terjatuh. Kau tetap tersenyum. Namun ketegasan mulai terlukis di garis wajah dan bening matamu. Dengan ketenangan yang mengagumkan, kau menyeru ke arah kegelapan ‘biarkan ia memilih dengan hak kebebasannya. Bukankah ia lahir dari rahim ibunya dalam keadaan merdeka?’. Keheningan menjelma.


Sisa tenaga yang tersisa kugunakan untuk merangkak. Perlahan, menyeret tubuhku ke arah jalanan yang masih berkilau dengan putih cahaya yang meneranginya. Senyummu tetap tak berubah. Perlahan, kau mendekatiku. Mengangkat, memapah dan memeluk tubuhku untuk kemudian mensejajarkan langkah kakiku dengan iramamu. Tak ada yang tersisa, selain ketenangan yang menyelimutiku. Damai.

--oOo--


Lalu, bagaimana mungkin kau memintaku mencintaimu secara sederhana, dengan perhatian dan kasih sayang agung yang telah kau ajarkan kepadaku?

*inspired from 'dia' yang 2 hari lagi akan MILAD. Cinta ini belum berubah :)


Monday, March 26, 2007

[sepenggal fragmen hidup] tentang sesuatu yang tercabik*

Fragmen 8


Resah. Perasaan itu masih saja setia mengikutiku. Tetap sama seperti yang dulu. Seperti saat kusaksikan ribuan TKI harus jadi kuli di negeri sendiri. Saat ratusan anak harus menderita lumpuh layu dan gizi buruk. Saat para ibu harus mengemis demi sebotol susu untuk buah hati dan sepiring nasi untuk keluarganya. Saat anak usia sekolah harus mengalahkan deru mesin kendaran di tiap perempatan lampu merah, menadahkan tangan untuk sekeping rupiah.

Sedih. Kosa kata inipun masih susah beranjak dari pikiranku. Tetap sama seperti yang dulu. Saat beragam bencana datang silih berganti. Saat nurani kemanusiaan bertekuk lutut di bawah tirani kekuasaan dan materi. Saat logika dan moralitas, digadaikan dalam lembaran kertas uang dan prestise semu atas nama status sosial. Saat inteletualitas dihargai dengan deretan huruf dan angka dalam lembaran ijazah dan transkrip nilai.

Geram.sikap hati yang juga masih menari di ruang jiwaku. Tetap sama seperti yang dulu. Saat nyawa manusia tak lebih dihargai dari bangkai busuk binatang liar. Saat ego lebih banyak berbicara dibanding kemurnian nurani. Saat alur anarkisme menjelma budaya di ketenangan pelosok negeri ini.

Maka satu-satunya pilihan rasional adalah dengan BERGERAK! Sebab, DIAM berarti MATI. Bukankah PERUBAHAN hanya bisa terwujud dengan BERGERAK?

Namun, ada yang makin menambah beban ini. Setelah keresahan, kesedihan, dan kegeraman. Ternyata ditambah lagi dengan kebingungan. Bagaimana tidak, kebanyakan kita malah memilih untuk saling menyalahkan. Di mana prinsip kerja sama yang diajarkan orang tua kita dahulu saat kita masih kanak? Ke mana daya juang yang ditanamkan pendahulu kita saat kita mempelajari sejarah mereka? Ke mana nalar berpikir kita disembunyikan, sementara beragam tingkat pendidikan telah kita enyam?

Kawan, sudah cukup banyak air mata ibu pertiwi ini terkuras. Jangan lagi ditambah dengan perpecahan di antara kita, anak-anaknya. Bukankah perbaikan lebih berharga dibanding saling tuding? Tidakkah solusi lebih bermakna dibanding saling curiga? Berdialog, tetulah lebih dewasa dibanding memendam buruk sangka yang akan berpotensi melahirkan fitnah?

Kawan, MERAH-PUTIH itu masih melambai, meski hanya setengah tiang. Ya…meski hanya setengah tiang. Yang dia butuh adalah angin sejuk perubahan untuk mengembalikan kemegahan kibarannya. Yang ia butuhkan adalah tarikan dan dorongan agar kembali ke puncak tiangnya, dan mengangkasa ke seantero dunia. Mengabarkan eksistensinya dengan kumandang ‘INDONESIA BELUM MENYERAH’

Ya, INDONESIA BELUM MENYERAH, selama masih ada pemuda yang resah, sedih, dan geram dengan semua sejarah yang telah diukirnya. Pemuda itu adalah aku, kamu, dia, kita, dan mereka!

*inspired from 'dia' yang 3 hari lagi akan MILAD. I LOVE U SO MUCH :)

ps: aku yakin, ibu pertiwi akan kembali tersenyum jika melihat kita semua bergandengan tangan :)

Saturday, March 24, 2007

[sepenggal fragmen hidup] tentang srikandi kampus merah



Fragmen 5

Tingkahnya santun. Sejuk dalam balutan jilbab putih lebar dan jaket hijau yang selalu menemani kesehariannya. Tas ransel selalu setia nangkring di pundaknya. Hampir tak pernah kudengar keluhan keluar dari mulutnya yang tak pernah absen dari tilawah harian. Yang ada hanya semangat. Ketajaman analisa dan kepedulian sosialnya, membuat sosoknya tak pernah lepas dari segudang aktivitas. Baris senyum tak pernah hilang dari lekukan bibirnya. Dan yang membuatnya paling unik, adalah ideology yang dipilihnya. Meskipun dia tahu, kelelahan yang akan dia tanggung. Keringat, air mata bahkan darah yang akan mengalir. Namun jawabannya sederhana saja, tiap kali orang-orang menanyakan tentang semua itu, “adakah perjuangan yang tidak menuntut pengorbanan?”

Fragmen 6

Dia tertawa. Selama ini hanya senyumnya saja yang selalu kulihat. Tapi pagi itu, dia benar-benar tertawa. Saat mengetahui bahwa ternyata hari-hari aksi yang kulalui dengan beberapa teman sering dimulai dengan nasi gosong, sepotong tempe dan air putih. “Gimana mau kuat bertahan” katanya. “Selain persiapan maknawiyah dan wacana, jangan pernah melupakan fisik”. Maka rutinitas hariannya bertambah lagi. Membawa makanan ke sekret tempat kami merancang beragam agenda perubahan. Bahkan, malam hari pun selalu ada tambahan supply tenaga. Secangkir kopi hangat dan snack ringan.

Fragmen 7

Jilbab putihnya penuh darah! Ya, beberapa batu nyasar ‘singgah’ di kepalanya yang tiap akhir malam tak pernah alfa sujud di hadapan Sang Kekasih. Masih kuingat tekadnya di akhir rapat, saat mendengar keraguan beberapa rekannya akan aksi yang telah dirancang jauh hari sebelumnya. “perjuangan hanya dilakoni oleh mereka yang memiliki mental pemberani, bukan pengecut. Takut mengambil resiko, lebih baik mati saja!” tegasnya. Dan dia konsisten dengan keyakinannya. Saat tubuhnya dipapah, dia berkata “ini baru sedikit dari beragam resiko perjuangan”. Bahkan di sela-sela darah yang mengalir turun ke wajahnya, lagi-lagi hanya senyum yang mengembang di bibirnya.


“HIDUP, MASIH MENYISAKAN ORANG-ORANG TEGAR DALAM DIRINYA”

Thursday, March 22, 2007

[sepenggal fragmen hidup]

Fragmen 1 :

Puzzle itu belum utuh. Namun gambarnya sudah mulai terbentuk. Tuhan … aku letih. Bisakah aku berhenti sejenak untuk beristirahat?

Fragmen 2 :

Berbalik ke belakang, seuntai ghoflah/kesalahan dan kesombongan masih juga mengikuti. Apakah ini hukuman-Mu? Tuhan … sabarkan aku dalam sakitku. Jadikan ia sebagai penebus dan penggugur dosa-dosaku seperti yang pernah disabdakan oleh manusia Agung, RasuluLlah saw.

Fragmen 3 :

Malam masih sama. Tetap menyiramkan embun di awalnya. Dingin, sampai subuh menjelang. Kontras dengan kehangatan geliat semu dan fatamorgana kenikmatan manusia yang jauh dari tuntunan-Mu. sunnatuLlah kebaikan dan kejahatan, ternyata tak sesederhana itu.

Fragmen 4 :

Megah-kumuh, tinggi-rendah, bersih-kotor, lapang-sempit …

Ah … tiap perempatan selalu saja sama. Menawarkan segalanya sebagai pilihan. Yang manakah? Mata batin, masih saja terpasung.


“HIDUP, KADANG_KADANG MASIH MENYISAKAN MISTERI DALAM DIRINYA.”