Friday, June 27, 2008

Sunday, June 15, 2008

[... ... ... ... ...]

Diam? Tak mengapalah. Sekarang diri ini memang harus belajar menyimak dan memperhatikan. Menyimak. Dari bisikan angin yang bertasbih memuja keagungan kuasa-Nya, sampai teriakan keras masyarakat yang dikategorikan kelas rendahan tentang membumbungnya harga BBM dan bahan kebutuhan pokok. Memperhatikan. Dari semut merah yang merambat pelan menelusuri jejak remah-remah sisa makanan dengan tetap 'bersosialisasi' sesama komunitasnya, sampai ulah makhluk yang diciptakan dengan sebaik-baik bentuk (ahsani takwim) yang masih saja merangkul erat bumi, dan mendekamkannya dalam nurani.

Diam? Tak mengapalah. Sebab lidah ini sudah terlalu sering mengalirkan dusta. Entah besar atau kecil. Banyak sudah hati dan perasaan tersakiti karena kesalahan dengan tidak terkontrolnya ucapan. Sahabat menjauh, teman menyingkir. Lawan makin mendengki. Mendekap ulang kepercayaan, menjadi sesuatu yang sulit. Silaturahim…ah, beberapa menjelang di ambang kritis titik putus.

Diam? Tak mengapalah. Lelah juga hati ini mengikuti perjalanan ucapan merangkai kata yang kadang tak tuntas di ujung janji. Sementara kesadaran masih nyata akan sabda Rasul mulia SAW tentang peringatan akan salah satu cirri munafik. Bila berjanji, dia ingkar. Rabb, hindarkan diri ini dari sifat demikian. Tidak ada daya dan kekuatan, selain dengan pertolongan-Mu.


Diam… … … …
--- --- ---

Hujan menderas malam itu. Menangisi dosa manusia yang tak juga cepat kembali ke ampunan Rabbnya. Setidaknya, demikian yang ada dalam pikiran kalutku. Takut? Iya, sangat.

Di hadapannya, aku hanya tertunduk meremas dan membolak-balik HP.

Namun wajah teduh itu tetap dengan senyuman kebapakannya. “Akhi, Ibnu Taimiyah berkata, jangan sampai kesalahan dan dosa yang kalian lakukan menghalangi kalian dari mengatakan dan mengerjakan kebaikan!” “Iya, antum salah. Dan saya tidak bisa memberikan saran apa-apa selain banyak-banyaklah beristighfar kepada-Nya. Dia Maha Penyayang, pengampun dosa hamba-hambaNya. Jika manusia yang berdosa dating dengan dosa sebesar gunung, maka Ia akan dating dengan ampunan yang juga sebesar gunung. Tidak pernah kurang Kasih Sayang-Nya pada makhluk-Nya sedikitpun.”

“Namun diam dari kebaikan, menyebar nasihat perbaikan, bahkan dari beramal, bukanlah sesuatu yang harus dilakukan. Bagaimana antum akan mengganti dosa dan kesalahan jika semuanya antum harus diamkan?”


---

Diam? Iya. Diam dari berkata dusta dan sia-sia. Diam dari janji yang kemungkinan tak bisa dipenuhi. Diam dari perkataan menyakitkan. Bahkan, kata TIDAK harus mulai dibiasakan. namun mengatakan kebenaran, nasihat kebaikan, dan amal kebaikan, tidak pernah ada kata diam untuk semua itu.

Ayo, bersama belajar mengendalikan ucapan ^_^


Wednesday, February 27, 2008

bila hati rindu menikah [part 8]

Diri, sudah sejauh manakah perjalanan hidup ini telah terlangkah? Entah, kusadari atau tidak, belakangan ternyata aku tidak lagi menghitungnya. Dengan tarikan nafas per sekian detiknya ataukah dengan jumlah amalan yang tertera. Mengukur hidup dengan skala maksiat dan kebajikan, jujur akan mendatangkan banyak ajaran kearifan bagi hati yang masih menyisakan setitik kelembutan dalam kerak kekerasannya.

Dalam hitungan 2 purnama lebih, bentangan kesia-siaan kembali terhampar. Mengulang kesalahan yang telah lalu? Ah, bukankah kau sendiri telah mengatakan tidak akan ambil bagian bahkan pada barisan paling belakang dari antrian keledai yang untuk jatuh dua kali pada jebakan yang sama tidak lagi mereka ridho?

Entah, namun membenci diri sendiri tetaplah sesuatu yang tidak akan membantu. Jujur pada nurani, lebih menyejukkan. Ternyata kesombongan diri yang melenakan masih saja bertahta di sana. Kau kemanakan ‘tiada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan ALLAH?’ sekedar lintasan yang dogmatis tanpa pernah mewujud menjadi sebuah keyakinan ideologi? Lalu kesalahan kau timpakan kepada hatimu yang masih juga gampang terlena? Sepakat, bahwa IA dengan iradah-Nya menguasai hati manusia. Tapi bukankah tak pernah lekang dalam doamu di akhir sholat agar tidak membolak-balikkan hatimu dalam hal agama dan dakwah?

Hey...bukankah inti hidup ada di sini? Untuk memenangkan tarikan kebaikan itu di atas ajakan kemaksiatan? PERJUANGAN. Arrggg....mengapa kesadaran itu selalu datang belakangan sementara kala kelapangan menyapa, hampir tak sekalipun matamu menangkap makna Ilahiyah dalam setiap gerakan. Lalu.... ah, aku merindukan sujud panjang menentramkan, dalam doa setelah ikhtiar bahwa di atas segalanya, ada ENGKAU Yang Maha Mengatur.

Berhenti? Iya, harus. Sebab ALLAH SWT masih mencintaimu. IA masih membuatmu merasakan kesedihan, agar bisa sedikit belajar memaknai arti kegembiraan. Seperti hujan, yang sesekali harus turun di antara kehangatan cahaya matahari

---

Katamu, masih ada banyak pelangi di luar sana. Ya saya tahu. Bahkan masih sering melihat lengkungan sempurnanya di bentangan langit sana setelah hujan. Namun sekarang aku sudah berhenti mengejar pelangi itu. Sebab, sampai kapanpun tak akan pernah bisa kurengkuh.

Menyesal? Tidak. Bukankah sudah kukatakan bahwa aku harus bersyukur kareka ALLAH SWT masih mencintaiku? Terbukti, perjalananku mencari pelangi membekaskan banyak pelajaran keindahan. Tentang cinta, kasih sayang, pengorbanan, perjuangan dan beragam hal indah lainnya. Terima kasih telah menjadi salah satu guru dalam kehidupanku. Dengan perantaraan dirimu, ALLAH SWT kembali menunjukkan padaku bahwa hidup dengan segala suka dukanya, tengah mengajarkan kepada kita semua rangkaian hijaiyyah segala sesuatu. Alif...Ba...Ta...

Monday, December 3, 2007

jangan lupakan AKAD ini...

Dengan segenap kemantapan jiwa pada raga
Yang kuucapkan dari kedalaman fikirku akan janji-Nya
Dengan mahar seperangkat alat kemenangan dan seribu dinar syahid fi sabilillah
Yang telah kupersiapkan di penjuru kamp Jenin
yang telah menunggumu di Ramallah yang berdebu
Yang telah terbungkus rapi di Al-Aqsho pada puing
Aku tak pernah ragu akan kesiapanmu
Sebab lantang suara qalbu telah kudengar
dari jejak-jejak doamu yang menggema di sepanjang malam tak berkesudahan
Aku tak pernah ragu dengan pilihanku
Sebab telah jelas Allah yang selalu melindungiku
Memberiku kemantapan pada istikharah Jalur Gaza dan sudut kota
Bahwa kau adalah calon mempelaiku
Dan akan serta hidupkan raga
Pada hentakan mortir di sudut kota
Pada lontar mesiu tank baja
Pada sumber api panas nyala
Kupinang engkau dan saksikanlah;
Bumi segera menyeruak memberi jalan

Tuesday, November 13, 2007

[kontemplasi]

Menatap gejolak yang meluap yang menghanguskan dan meluluhlantakkan dunia islam;
Ada yang harus dilakukan
Menyimak kedzaliman dan penindasan yang menimpa dan mencengkram dunia islam;
Ada yang harus dikerjakan
Bukan semata merenung, kemudian meneteskan air mata
Bukan semata menjerit atau bertakbir
Ada yang dilakukan adalah menyiapkan diri menjadi anak panah-anak panah yang siap dilepaskan
Atau peluru-peluru yang siap ditembakkan.
Atau tombak-tombak yang siap dilontarkan.
Atau pedang-pedang yang siap diayunkan.
Menyadari keangkuhan dan kesombongan yang mengangkangi dan menindas dunia islam;
Ada yang harus disiapkan
Keikhlasan diri, kebulatan tekad, kekuatan jasad dan keteguhan materi
Menyikapi kehancuran yang melanda dunia islam;
Di tengah kelesuan, kelemahan dan tidur panjang umat islam;
Langkah yang dilakukan harus penuh kesungguhan
Bukan semata bicara panjang lebar tanpa kerja yang nyata
Atau semata mengungkapkan kebobrokan namun dengan penuh ragu dan kecenderungan
Adalah memantapkan diri bahwa selembar jadwal bukan sekedar rencana kosong
Bahwa tiap goresan pena adalah kesungguhan
Dengan keprihatinan bahwa kesabaran adalah cambuk untuk menegakkan keadilan
Merenungi langkah yang harus dilakukan untuk masa depan dunia islam;
Ada yang harus ditegaskan
Kemantapan diri, kekuatan azzam, kemurnian asas, dan kejelasan tujuan

Sunday, October 21, 2007

Laki-laki dan air mata

Salah satu persangkaan yang banyak digunakan orang dan menjelma menjadi sebuah pandangan umum adalah tentang gambaran seorang laki-laki. Sosoknya dicitrakan sebagai makhluk yang perkasa, kuat, penuh ambisi untuk menaklukkan dunia. Hingga tak disisakan sedikitpun ruang untuk kehalusan rasa dan air mata. Bila benar demikian, bagaimana mungkin ia akan mampu mengemban amanah Allah swt yang dibebankan di kedua tangan dan pundaknya? Padahal, keperkasaan yang terkadang menjelma menjadi kegarangan, di suatu waktu atau peristiwa akan mengembun. Sebab, di kedalaman nuraninya tetap saja ada kelembutan yang bertahta.

Cengeng, banci dan gelaran lainnya akan segera tersemat di belakang mereka ketika diketahui bahwa mereka sering bahkan selalu menangis. Padahal, bukankah mereka juga manusia yang sama dengan perempuan? Sama-sama memiliki hati dan perasaan untuk mencerna semua masalah yang menghadang di depannya? Lalu kesalahannya dimana?

Jika tangisan atau air mata itu menderas untuk sebuah kekecewaan, kesia-siaan, patah semangat tanpa keinginan untuk bangkit lagi, atau bukan di jalan Allah swt, julukan seperti di atas mungkin (sekali lagi mungkin) bisa dialamatkan kepada laki-laki. Namun bagaimana kita memaknai derasan air mata yang lahir dari kegundahan hati laki-laki yang melihat kondisi ummat ini masih saja terpuruk di lembah terdalam kejahiliyahan? Merasa belum berbuat maksimal untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan sana? Atau mata yang kaca kala mengingat belum sempurna kecintaannya kepada Sang Khaliq dan RasulNya yang mulia?

Bagaimana pula dengan isakan mereka di penghujung malam, kala mengingat dan menghitung-hitung dosanya di hari lalu, sementara jaminan syurga tak ada sedikitpun dalam genggaman? Mengenang keterpurukan nilai-nilai suci ISLAM yang tenggelam oleh ummatnya sendiri lantaran masing-masing bertahan dengan ego dan pemahaman jamaah tempatnya belajar mengkaji semuanya sementara usaha yang dilakukannya untuk menyatukan mereka hampir tak mendapat tempat sama sekali?

Bagaimana pula dengan rintihan tertahan para laki-laki yang belum juga mampu menyadarkan anak perempuan atau istrinya agar berhijab dengan sempurna? Atau kala mengetahui bahwa anaknya menjalin hubungan dengan seseorang yang bukan mahromnya dalam sebuah ikatan yang bukan pernikahan?

Ah, mungkin kita semua harus belajar membaca makna. Mencerna segala sesuatu dari kandungan isi tanpa tertipu penampilan luar. Untuk apa dan siapa air mata itu harus mengalir. Seperti tangisan Muhammad saw Sang Teladan. Padahal sejarah mencatat beliau sebagai seorang panglima perang yang paling cerdas di segala medan. Yang paling tegar di hadapan semua cobaan dan fitnah. Yang paling tegas di hadapan kaum kuffar. Namun, tetap saja matanya mengalirkan air kala bersujud di hadapan Rabbnya, atau kala mengingat semua ummatnya yang belum juga sempurna mengabdi pada Rabb Semesta Alam.

nb : inspired from akhwat bandung yang belakangan jadi teman diskusi lewat e-mail. afwan, belum izin. Mudah-mudahan ga keberatan.

Wednesday, October 10, 2007

Jelang fitri di akhir Ramadhan

Kesedihan yang wajar, saat sesuatu yang dicintai bergerak perlahan meninggalkan kita. Menjauh, dalam kebersamaan yang sangat singkat. Entah dengan kebersamaan seperti apa yang tertoreh dalam perjalanan selama bersama, jelasnya akan meninggalkan kenangan sendiri di suatu sudut jiwa. Apa yang disisakannya sebagai catatan sejarah, akan dibawa menghadap-Nya kelak sebagai bagian dari pertanggungjawaban desah nafas dalam rangkaian hari kehidupan.


Kerinduan yang akan menyeruak. Dalam banyak kenangan indah. Di keheningan malam dalam puncak tahajud, siang yang menyediakan beragam pilihan amal nyata kebaikan, bahkan dalam kesederhanaan berbuka dengan 2 kegembiraan tertinggi seperti yang telah dijanjikan Sang Maha Pengatur pergerakan seluruh alam raya.


Ramadhan memang telah di ambang gerbang akhir dalam perjalanannya membersamai kita. Sekejap, dalam hitungan jam pergerakan bulan di angkasa sana dia akan menuntaskan kunjungan rutinnya sekali dalam 12 purnama yang sempurna. Fitri menjelang, dalam syawal yang menjanjikan kemenangan atas perang melawan hawa nafsu.


TaqaBbalaLlahu miNna wa Minkum, Shiyaamana wa shiyaamukum. Semoga Allah SWT menerima semua ibadah puasa kita dan berkenan memasukkan kita dalam golongan orang yang bertakwa di hari kemenangan yang menggembirakan. Amiin Ya Rabbal 'Alamin